Oleh karenanya, ia mengingatkan pola peristiwa global semacam ini bisa berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia karena keterkaitan perdagangan dan pasar keuangan dunia.
Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Fithra, Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB memperkirakan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan sedikit melambat pada 2026 seiring dampak tarif Presiden Donald Trump yang kian terasa dan meluasnya ketidakpastian geopolitik.
Ekonomi global diproyeksikan tumbuh 2,7% pada tahun ini, lebih rendah dibanding estimasi 2,8% pada 2025, menurut laporan World Economic Situation and Prospects PBB yang dirilis Kamis. Pada 2027, pertumbuhan diperkirakan kembali menguat menjadi 2,9%.
Tahun lalu, perekonomian internasional masih mampu menyerap guncangan dari tarif yang diberlakukan Trump pada April terhadap sebagian besar mitra dagang Amerika Serikat. Namun, dampaknya akan “menjadi lebih nyata pada 2026,” demikian isi laporan tersebut. PBB memperkirakan pertumbuhan perdagangan global, yang diestimasi mencapai 3,8% pada 2025, akan melambat menjadi 2,2% pada tahun ini.
Selain ketegangan perdagangan, PBB juga menyoroti risiko lain, termasuk konflik geopolitik yang berpotensi menekan laju pertumbuhan, meskipun sebagian tekanan tersebut diimbangi oleh peningkatan belanja konsumen dan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih stabil.
“Kombinasi ketegangan ekonomi, geopolitik, dan teknologi tengah membentuk ulang lanskap global, menciptakan ketidakpastian ekonomi baru dan kerentanan sosial,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam sebuah pernyataan.
Perekonomian dunia dalam beberapa tahun terakhir tumbuh lebih lambat dibanding satu dekade sebelum pandemi, ketika pertumbuhan rata-rata mencapai 3,2%.
(ell)
































