Selanjutnya, korban akan diminta nomor telepon mereka sebagai imbalan untuk aplikasi tersebut. Akan tetapi, sebenarnya mereka menerima aplikasi berbahaya unik yang menyamar sebagai Android Package Kit (APK) yang sah.
Seusai para pelaku kejahatan ini memperoleh akses ke perangkat, mereka bisa menggunakan data pribadi korban untuk keuntungan finansial. Akses lewat pesan teks dalam kampanye malware ini dinilai sangat keji. Hal ini berpotensi memberikan para pelaku kejahatan tersebut seperti kode keamanan sekali pakai (one time password/OTP), yang kerap dibutuhkan oleh bank dan lembaga keuangan lainnya untuk memverifikasi akses pengguna.
Usai para pelaku kejahatan ini memperoleh akses ke perangkat, mereka bisa menggunakan data pribadi korban untuk keuntungan finansial. Akses lewat pesan teks dalam kampanye malware ini dinilai sangat jahat. Hal ini berpotensi memberikan para pelaku kejahatan tersebut seperti kode keamanan sekali pakai (one time password/OTP), yang kerap dibutuhkan oleh bank dan lembaga keuangan lainnya untuk memverifikasi akses pengguna.
Para peneliti Zimperium mengatakan bahwa mereka sudah melacak kampanye pencuri SMS ini selama hampir 2,5 tahun. Selama periode waktu itu, para peneliti telah melihat lebih dari 107.000 sampel malware yang terkait dengan kampanye tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana para pelaku kejahatan di balik perangkat lunak berbahaya ini terus memperbarui kampanye mereka agar tetap efektif.
Para peneliti mengeklaim bahwa pola pencurian SMS telah menelan korban di 113 negara. Mayoritas korban tampaknya berada di India dan Rusia, namun ada juga sejumlah besarnya di Brasil, Meksiko, Amerika Serikat (AS), Ukraina, dan Spanyol.
Peneliti mengimbau pengguna Android harus mewaspadai kampanye jahat ini dan berhati-hati terhadap tautan unduhan apa pun yang menjanjikan unduhan aplikasi gratis. Di samping itu, dalam pernyataan yang diberikan kepada Mashable, juru bicara Google merekomendasikan agar pengguna Android memanfaatkan fitur Google Play Protect untuk menghindari malware yang menginfeksi perangkat mereka.
“Pengguna Android secara otomatis terlindungi dari versi malware yang dikenal ini oleh Google Play Protect, yang diaktifkan secara bawaan pada perangkat Android dengan layanan Google Play,” kata juru bicara (jubir) Google.
“Google Play Protect dapat memperingatkan pengguna atau memblokir aplikasi yang diketahui menunjukkan perilaku berbahaya, bahkan ketika aplikasi tersebut berasal dari sumber di luar Google Play,” imbuh jubir tersebut.
(wep)






























