RI Bisa Tetap Boros Devisa Meski Bahlil Stop Impor BBM Shell dkk
Azura Yumna Ramadani Purnama
20 January 2026 10:10

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memprediksi Indonesia tidak akan begitu menghemat devisa negara meskipun kebijakan penyetopan impor bahan bakar minyak (BBM) untuk operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta diberlakukan.
Alasannya, PT Pertamina (Persero) diprediksi tetap harus mengimpor minyak mentah atau crude untuk diolah menjadi BBM, sebab produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan dan diprediksi tak mencukupi untuk memasok kebutuhan BBM nasional.
Fahmy juga memprediksi besaran minyak mentah yang harus diimpor akan meningkat signifikan lantaran Pertamina perlu memproduksi BBM untuk perusahaan dan menjualnya juga ke SPBU swasta.
“Ya itu kan mengalihkan impor saja. Besaran uang atau devisa yang dikeluarkan untuk impor itu kan sama saja sesungguhnya. Artinya itu sama saja bohong, stop impor bensin tetapi memperbesar impor crude. Dagelan aja itu,” kata Fahmy ketika dihubungi, dikutip Selasa (20/1/2026).
Di sisi lain, Fahmy juga menyoroti kemampuan produksi kilang di Indonesia. Dia memandang pemerintah perlu membangun beberapa proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), sebagaimana yang dilakukan di Kilang Balikpapan.




























