Di pasar keuangan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan naik menjadi 6,12%, yang mencerminkan adanya aliran modal keluar dari pasar keuangan Indonesia. Sementara itu, dari sisi makro, pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan mengalami moderasi tipis menjadi 5,06% dibandingkan proyeksi awal sebesar 5,08%.
Di samping itu, laporan tersebut menjelaskan bahwa konflik di Amerika Selatan akan memicu sentimen risk-off di pasar global. Investor cenderung menarik modal dari negara berkembang (emerging markets) dan mengalihkannya ke aset aman (safe haven) seperti emas dan dolar AS.
Dalam simulasi yang dilakukan, harga minyak mentah jenis Brent diproyeksikan melonjak dari level dasar US$60,0 menjadi US$66,6 per barel. Lonjakan ini diprediksi akan diikuti oleh kenaikan inflasi di Amerika Serikat yang mencapai 3,0%, memicu indeks dolar (DXY) menguat ke level 103,6.
Sebagai catatan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali ditutup melemah pada perdagangan Selasa (13/1/2026), terdepresiasi 0,19% ke Rp16.865/US$. Bahkan dalam perdagangannya di siang hari, rupiah sempat berada di rekor terlemah sepanjang masa di Rp16.878/US$.
Pelemahan ini menambah panjang daftar tekanan yang dialami rupiah sejak awal tahun, menunjukkan kombinasi sentimen global yang memburuk serta kondisi perekonomian domestik yang belum kondusif.
Di sisi lain, sebagaimana diketahui melalui operasi militernya, AS pada 3 Januari 2026 berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya di Caracas.
Penangkapan yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump ini didasari atas dakwaan narko-terorisme dan perdagangan narkoba, di mana Maduro kemudian langsung diterbangkan ke New York untuk menghadapi persidangan federal.
(lav)































