Konflik dengan Iran Berisiko Beri Guncangan Baru bagi Ekonomi AS
News
03 March 2026 09:50

Shawn Donnan dan Enda Curran - Bloomberg News
Bloomberg, Agresi militer Presiden Donald Trump terhadap Iran berisiko memberikan guncangan baru bagi ekonomi Amerika Serikat (AS). Situasi ini menjadi sangat sensitif mengingat ketidakpuasan pemilih terhadap kondisi ekonomi kian meningkat, tepat delapan bulan sebelum pemilihan umum paruh waktu (mid-term elections).
Dampak domestik yang paling nyata bagi warga AS kemungkinan besar muncul dalam bentuk lonjakan harga bensin. Serangan AS dan Israel ini diluncurkan hanya beberapa hari setelah Trump sesumbar dalam pidato State of the Union tentang keberhasilannya menurunkan harga bahan bakar. Meski harga minyak mentah melonjak sekitar 8% pada Senin siang di New York, para ekonom memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi sejauh mana kampanye penggantian rezim di Iran ini akan mempengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah naik sekitar 8% pada Senin sore di New York.
Kunci dampak ekonomi AS terletak pada seberapa lama perang ini berlangsung. Durasi konflik akan menentukan tingkat gangguan pengiriman minyak dan gas alam dari produsen Teluk, yang pada akhirnya memengaruhi tagihan gas rumah tangga warga Amerika.
Kondisi ini menambah kerumitan bagi Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang telah menghentikan pemangkasan suku bunga dan kini dalam posisi waspada terhadap kembalinya inflasi. Mantan Menteri Keuangan sekaligus mantan Gubernur The Fed Janet Yellen menyatakan pada hari Senin bahwa situasi ini "membuat The Fed semakin dalam posisi menahan diri (on hold)."



























