Logo Bloomberg Technoz

Situasi ini menjadi pembahasan utama dalam pertemuan Menteri Keuangan G-7 di Washington pada Senin (12/1). Para pejabat mendiskusikan cara mengatasi "kerentanan dalam rantai pasok mineral kritis." Dominasi China di sektor ini telah memberinya daya tawar besar dalam pembicaraan dagang dengan AS maupun negosiasi geopolitik dengan negara lain.

Di kawasan Asia, ketegangan antara dua ekonomi terbesar di kawasan itu meningkat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu melontarkan pernyataan yang mengisyaratkan Jepang dapat mengerahkan militernya jika China menggunakan kekuatan untuk merebut Taiwan.

Amerika Serikat, sekutu dekat Jepang, sejauh ini belum banyak menyampaikan dukungan secara terbuka dari Washington terhadap Tokyo. Koizumi pun menghindari menjawab secara langsung ketika ditanya apakah ia menginginkan dukungan yang lebih kuat dari AS.

“Kami akan terus mengatasi tantangan bersama dan melangkah maju berdampingan. Itu tidak akan berubah,” ujarnya.

Sebelumnya pada hari yang sama, Koizumi menyampaikan pidato dalam pertemuan tahunan yang dihadiri para pemimpin militer, pemerintahan, akademisi, dan industri pertahanan dari Amerika Serikat serta negara-negara sekutunya. Dalam pidato tersebut, ia mengecam apa yang disebutnya sebagai “persenjataan atas segala hal.”

“Persenjataan ekonomi, teknologi, sumber daya, informasi, dan ruang siber; kaburnya batas antara masa damai dan situasi darurat, antara militer dan non-militer, serta antara kebenaran dan berita palsu—semuanya kini tidak lagi terlihat jelas,” kata Koizumi.

Koizumi singgah di Hawaii sebelum melanjutkan perjalanan ke Los Angeles untuk mengunjungi sejumlah perusahaan pertahanan, menjelang pertemuannya dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Washington pada Kamis.

(bbn)

No more pages