Yannes juga bilang tahun 2026 dapat menjadi tahun pemulihan bagi sektor otomotif, meskipun pemulihannya tidak merata. Salah satu pemberat bagi pemulihan sektor otomotif ini terutama berasal dari segi pembiayaan.
“Permintaan di segmen terbesar seperti LCGC/entry dan low MPV masih sangat sensitif terhadap cicilan dan persetujuan kredit, jadi pemulihan terutama ditentukan oleh transmisi penurunan suku bunga ke bunga leasing, serta kepastian pajak dan insentif.” katanya.
Selain itu, Yannes juga mengingatkan mengenai risiko awal tahun berupa efek post pull-forward dari promo akhir 2025, sehingga penjualan semester I ini bisa terasa lebih pelan.
“Di saat yg sama, ada faktor besar yg sering luput, yaitu middle class kita yg terus menyusut, padahal merekalah anchor market untuk penjualan kendaraan paling laku di rentang Rp200–400 jutaan begitu daya beli kelompok ini tertekan, mass market otomatis ikut melemah demandnya meski produknya tersedia.” katanya.
(ell)






























