Sejalan dengan pernyataan Presiden, Danantara dalam Danantara Economic Outlook 2026 menegaskan bahwa restrukturisasi BUMN tidak diarahkan untuk menjadikan seluruh BUMN langsung mencetak keuntungan. Fokus utama reformasi adalah membangun fondasi operasional dan sistem tata kelola yang mampu menopang keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Danantara menilai 2025 sebagai fase penataan awal reformasi, sementara 2026 menjadi periode ketika pasar mulai menuntut bukti pelaksanaan dari agenda tersebut. Sejumlah sinyal awal tercermin dari pergerakan saham PT Krakatau Steel, PT Garuda Indonesia, PT Timah, dan PT Telkom, yang menunjukkan respons positif investor terhadap proses pemulihan kinerja.
Agenda reformasi tersebut mencakup konsolidasi BUMN, rasionalisasi aset, perbaikan indikator kinerja operasional, serta penguatan akuntabilitas manajemen. Pemerintah menargetkan penyederhanaan jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 200 perusahaan sebagai bagian dari program jangka menengah hingga panjang.
Danantara mencatat total aset BUMN secara kolektif mencakup lebih dari setengah Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia. Dengan porsi tersebut, perbaikan tata kelola dan operasional BUMN dipandang memiliki dampak luas terhadap stabilitas pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada 2026, fokus reformasi akan bergeser ke tahap eksekusi, termasuk konsolidasi yang kredibel, audit objektif, perbaikan neraca keuangan, serta integrasi operasional. Langkah-langkah ini menjadi dasar bagi peran BUMN dalam menopang aktivitas ekonomi nasional secara berkelanjutan.
(dhf)





























