Tan juga menyoroti tingginya kandungan gula dalam produk seperti biskuit. Menurutnya, satu jenis biskuit bisa mengandung beberapa macam gula, namun sering dianggap sama oleh masyarakat. “Kalau dikasih biskuit ya sudah, padahal ada biskuit dengan gula sangat tinggi, pakai cokelat, dan gulanya bisa empat macam,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kebiasaan konsumsi makanan manis dari produk pabrikan dapat membentuk preferensi rasa anak sejak dini. Jika preferensi tersebut terbentuk, maka anak akan terus mencari makanan manis buatan hingga dewasa.
“Kalau preferensi mereka adalah manisnya biskuit, bukan manis ubi atau jagung, maka seumur hidup yang dia cari adalah rasa manis itu. Begitu punya uang, dia akan membelanjakannya untuk makanan seperti tiramisu,” ujarnya.
Selain itu, Tan memahami narasi kearifan pangan lokal jika bahan utama makanan siap saji masih bergantung pada impor. Ia menyinggung penggunaan tepung terigu sebagai bahan utama produk pabrikan yang tidak diproduksi dari tanaman lokal Indonesia.
“Jangan bicara kearifan pangan lokal atau kedaulatan pangan, sementara semua bahannya impor. Tepung itu tidak tumbuh di Indonesia, gandum impor,” tegasnya.
Selain itu juga memaparkan dampak jangka panjang konsumsi makanan siap saji pada anak, antara lain:
1. Meningkatnya risiko gangguan fokus dan hiperaktivitas
2. Penyakit jantung dan metabolik sejak dini
3. Obesitas
4. Penurunan daya belajar
5. Risiko kematian dini
Ia pun mengungkapkan perbedaan kebijakan tersebut dengan pembagian produk pabrikan yang sering diberikan kepada anak-anak saat libur sekolah. “Apa bedanya dengan produk pabrikan yang dibagikan saat libur?” ucap Tan.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional mengatur mekanisme khusus penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan puasa, salah satunya dengan membagikan menu siap saji bagi siswa yang menjalankan ibadah puasa.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan kebijakan ini dilakukan agar pasokan gizi tetap berjalan tanpa mengganggu puasa siswa.
“Untuk anak sekolah di daerah mayoritas puasa, makanan siap disajikan di sekolah untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat buka,” kata Dadan kepada Bloomberg Technoz , Senin (12/1).
Ia menambahkan, menu makanan siap saji akan disesuaikan dengan ketentuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta karakteristik dan kearifan lokal masing-masing daerah.
(dec)





























