Logo Bloomberg Technoz

Hasil tersebut menjadi sinyal bahwa bisnis Moderna mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Perusahaan menegaskan kembali rencananya untuk mencatat pertumbuhan pendapatan hingga 10% pada 2026.

Meski berakhirnya pandemi telah memicu penurunan panjang pada bisnis Covid Moderna, kebijakan pejabat AS justru membuat situasi semakin menantang. Pemerintah mempersempit kelompok masyarakat yang memenuhi syarat menerima vaksin Covid, menimbulkan kebingungan soal cara mendapatkannya, serta memunculkan pertanyaan mengenai keamanannya.

Sebagai respons, perusahaan memangkas biaya secara agresif, memburu pertumbuhan di luar AS, dan baru-baru ini mengamankan pinjaman hingga US$1,5 miliar.

Produsen vaksin yang masih merugi ini menargetkan mencapai titik impas pada 2028. Namun target tersebut bergantung pada keberhasilan meyakinkan pejabat AS—yang dipimpin oleh pengkritik vaksin lama Robert F. Kennedy Jr.—untuk menyetujui vaksin flu dan norovirus, serta vaksin kombinasi flu dan Covid.

Perusahaan memperkirakan potensi persetujuan untuk vaksin flu di beberapa negara tahun ini. Namun, Moderna tidak memperkirakan vaksin flu miliknya akan tersedia secara luas di AS hingga 2027, kata Mock. Saat ini AS tengah dilanda musim flu yang sangat buruk, dengan vaksin yang beredar tidak cocok dengan strain yang menyebar. Moderna menyebut teknologi mRNA-nya dapat mengatasi masalah ini karena vaksinnya dapat diperbarui dengan lebih cepat.

Pengungkapan Moderna disampaikan pada hari pertama konferensi tahunan JPMorgan Healthcare Conference di San Francisco, ajang di mana perusahaan farmasi kerap meletakkan dasar bagi kesepakatan di masa depan. Selama berbulan-bulan, Moderna mencari mitra keuangan untuk mendanai sejumlah uji klinis vaksin tahap akhir. Mock mengatakan pembicaraan tersebut masih berlangsung.

(bbn)

No more pages