“Jangan sampai misalnya Indonesia Timur membayar lebih mahal. Kami menyelesaikan agar Bulog diberi peran untuk ngambil keuntungan seperti dulu. Kalau sekarang kan Bulog tidak ada [keuntungan], tidak ngambil apa-apa. Hanya Rp50, jadi buat gajinya kadang-kadang kurang, enggak cukup,” jelas Zulhas.
Zulhas juga menegaskan tahun ini pemerintah mengupayakan agar beras satu harga dapat segera diterapkan di Indonesia.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Rizal Ramdhani mengatakan usulan kenaikan margin fee mengacu pada praktik badan usaha milik negara lain.
Rizal menyebut PT PLN Persero dan PT Pertamina Persero menerapkan margin yang memungkinkan harga seragam di seluruh wilayah. PLN menjual listrik dengan tarif yang sama. Pertamina menetapkan harga BBM seragam di SPBU seluruh Indonesia.
Dia menilai kebijakan satu harga sulit diterapkan jika margin fee Bulog tidak disesuaikan. Distribusi beras membutuhkan biaya logistik besar, terutama pengiriman ke daerah terpencil.
“Margin fee-nya harus naik dulu karena kalau nggak naik, enggak cukup lah untuk ngongkosin ke daerah-daerah transportasinya agak mahal,” tutur Rizal.
“Jadi, dengan tambahan margin fee inilah mana-mana akan tambah ongkos ke Indonesia Timur, ke Indonesia bagian Barat, dan sebagainya,” tambahnya.
(ell)




























