Logo Bloomberg Technoz

“Inflasi China tetap lemah pada Desember, menunjukkan tekanan deflasi yang kemungkinan berlanjut hingga konsumsi pulih secara lebih berkelanjutan. Data harga pada Jumat ini kecil kemungkinannya mendorong langkah cepat dari People’s Bank of China (Bank Sentral China), namun risiko deflasi yang mengakar akan membuat bank sentral tetap dalam mode pelonggaran tahun ini,” kata David Qu dari Bloomberg Economics.

Analis NBS Dong Lijuan mengakui bahwa kenaikan IHK bulan lalu terutama dipicu oleh lonjakan harga pangan. Harga makanan naik 1,1% dibandingkan setahun sebelumnya — laju tercepat sejak Oktober 2024 — dipimpin lonjakan lebih dari 18% pada harga sayuran.

Namun, faktor penting lainnya juga ikut berperan.

“Permintaan konsumsi rumah tangga meningkat seiring mendekatnya libur Tahun Baru, sejalan dengan kebijakan yang bertujuan memperluas permintaan domestik dan mendorong konsumsi yang terus menunjukkan dampak,” ujar Dong dalam pernyataan terpisah.

Meski inflasi konsumen telah pulih dari level di bawah nol pada awal 2025, laju tersebut tetap menutup tahun jauh di bawah target resmi pemerintah sekitar 2%.

Deflator produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan akan turun untuk tahun ketiga berturut-turut hingga akhir 2025, menjadi periode penurunan terpanjang sejak negara itu beralih menuju ekonomi pasar pada akhir 1970-an. Menurut pandangan bank-bank global seperti Morgan Stanley, ukuran harga yang paling luas ini kemungkinan baru akan kembali positif mulai 2027.

Dalam Konferensi Kerja Ekonomi Pusat pada Desember lalu, para petinggi Partai Komunis berjanji untuk melanjutkan kampanye "anti-involution". Ini adalah upaya untuk menghentikan perang harga yang telah menggerus margin keuntungan di berbagai industri, mulai dari kendaraan listrik hingga platform pengiriman makanan.

Namun, langkah-langkah yang telah diambil sejauh ini dinilai belum cukup efektif di banyak sektor. Produsen otomotif global dan para diler mereka di China masih melanjutkan pemangkasan harga agresif serta pemberian insentif pembelian pada awal 2026.

Hambatan utama dari upaya ini adalah kekhawatiran pemerintah terhadap risiko hilangnya lapangan kerja dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Goldman Sachs Group Inc. mencatat bahwa upaya pemangkasan kapasitas di sektor baja berjalan lebih lambat dari perkiraan, yang membuat pabrik-pabrik di China harus menghadapi periode tekanan margin yang berkepanjangan.

(bbn)

No more pages