Secara fundamental, lanjut Sutopo, periode 2026 diprediksi menjadi tahun dengan surplus pasokan yang besar karena produksi dari AS, Guaya, dan Brasil berada di puncaknya.
Dengan demikian, dia menilai tambahan pasokan dari Venezuela ke pasar minyak dunia berpeluang makin menekan harga minyak mentah.
Dia memprediksi harga minyak mentah dunia bisa saja bertahan di level US$50 hingga US$55 per barel untuk waktu yang cukup lama.
“Kehadiran AS di Venezuela memberikan sinyal psikologis yang kuat bahwa ‘pasokan masa depan telah terjamin’. Hal inilah yang membuat harga minyak mentah seperti WTI [West Texas Intermediate] sulit untuk melampaui angka US$70—US$80 per barel,” ungkap Sutopo.
Sekadar catatan, pada akhir 2023 armada kapal supertanker yang memuat BBM dari Venezuela terpantau membanjiri dan berisiko mengguncang pasar energi Asia, kurang dari dua bulan setelah AS melonggarkan sanksi terhadap negara Amerika Selatan tersebut.
Tiga kapal pengangkut minyak mentah sangat besar atau very large crude carriers (VLCC) – yang masing-masing mampu mengangkut hingga 2 juta barel – membongkar muatan produk minyak berlumpur dan belerang di Asia Tenggara pada November, menurut pelacakan data kapal Bloomberg.
Pabrik penyulingan atau kilang independen China terpantau telah menjadi pembeli utama minyak mentah dan bahan bakar Venezuela sejak Washington menerapkan sanksi pada 2019. Namun, pelonggaran pembatasan tersebut kini memicu minat yang lebih luas, terutama dari India.
Bahan bakar minyak – yang digunakan untuk menggerakkan kapal – disuling di Venezuela, tetapi umumnya diolah menjadi bitumen di Asia atau digunakan sebagai bahan baku untuk membuat solar berkualitas rendah.
Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat (AS) mungkin akan menyubsidi upaya perusahaan energi untuk membangun kembali industri minyak Venezuela.
Hal itu diwacanakan setelah pemerintahannya berupaya meyakinkan perusahaan migas untuk berinvestasi di negara tersebut, beberapa hari setelah menggulingkan Presiden Nicolás Maduro.
Trump mengatakan proyek perluasan operasi perusahaan industri minyak AS di negara itu dapat "berjalan dan beroperasi" dalam waktu kurang dari 18 bulan, dalam sebuah wawancara dengan NBC News pada Senin (5/1/2026) waktu setempat.
Trump mengatakan proyek perluasan operasi perusahaan industri minyak AS di negara itu dapat "berjalan dan beroperasi" dalam waktu kurang dari 18 bulan, dalam sebuah wawancara dengan NBC News pada Senin (5/1/2026) waktu setempat.
Adapun, berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia pada 2023 sebesar 303 miliar barel atau setara 17% dari cadangan minyak mentah dunia.
Jumlah tersebut mengalahkan cadangan minyak mentah yang dimiliki negara-negara Timur Tengah.
Berdasarkan data tersebut, produksi minyak Venezuela sempat berada di sekitar 2,6 juta barel per hari pada 2011 hingga 2014, sebelum akhirnya menurun ke 2,5 juta juta barel per hari pada 2015.
Lalu, pada 2016 produksi minyak mentah Venezuela tercatat sebanyak 2,3 juta barel per hari, 2017 sebesar 2,06 juta barel per hari, 2018 1,5 juta barel per hari.
Kemudian, memasuki 2019 produksi minyak Venezuela berada dibawah 1 juta barel per hari yakni 928.000 barel per hari.
(azr/wdh)





























