Sementara itu, Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) Economic Outlook 2026, menilai rupiah berpeluang menguat secara moderat pada 2026. Penguatan ini didukung oleh potensi arus masuk modal, baik dari investasi langsung maupun portofolio.
"Meskipun demikian, mata uang ini mungkin terus menghadapi hambatan dari kebijakan fiskal dan moneter ekspansif yang sedang berlangsung, yang dapat menimbulkan tantangan bagi stabilitas secara keseluruhan," tulis PIER dalam laporan Economic Outlook 2026.
Lebih lanjut, dalam laporan tersebut, PIER memperkirakan pada akhir 2026 rupiah akan diperdagangkan di kisaran Rp16.200–Rp16.400/US$. Kisaran ini dinilai sedikit lebih kuat dibandingkan proyeksi akhir 2025 yang berada di rentang Rp16.300–Rp16.500/US$.
Berdasarkan Monthly Foreign Exchange Outlook edisi Desember 2025 yang diterbitkan bank asal Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group atau lebih dikenal dengan MUFG, rupiah berpotensi akan bergerak fluktuatif sepanjang 2026.
Pada kuartal I, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di Rp17.000/US$, kemudian menguat ke Rp16.850 pada kuartal II dan Rp16.700 pada kuartal III. Memasuki kuartal IV, rupiah diperkirakan kembali melemah tipis ke Rp16.750/US$.
Pandangan relatif optimistis juga disampaikan DBS dalam laporan Focus Indonesia 2026 Outlook: Time to Deliver.
Senior FX Strategist DBS, Philip Wee menyatakan rupiah diperkirakan memasuki 2026 dengan pijakan yang lebih stabil. Sebab menurut dia, operasi valuta asing Bank Indonesia (BI) berperan besar dalam menjaga stabilitas rupiah terhadap dolar AS di kisaran Rp16.500–Rp16.800. Hal ini terutama setelah periode gejolak pada Agustus–September yang diwarnai protes besar dan mundurnya mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang selama ini dipandang sebagai penopang kredibilitas fiskal Indonesia.
Sebelumnya, DBS mencatat, berdasarkan level penutupan harian, kisaran perdagangan USD/IDR sepanjang 2025 berada di rentang Rp16.100–Rp16.900, lebih tinggi namun lebih sempit dibandingkan kisaran Rp15.100–Rp16.400 pada 2024.
Oleh karenanya, untuk 2026, bank asal Singapura ini memproyeksikan nilai tukar rupiah rata-rata di level Rp16.430, lebih baik dibandingkan asumsi makro pemerintah yang mematok kurs Rp16.500/US$.
Sebagai catatan, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menargetkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2026 di kisaran Rp16.500/US$, bahkan berpotensi menguat hingga Rp16.400/US$.
"Nilai tukar rupiah rata-ratanya Rp 16.430, hampir sama dengan prognosa Rp16.440," kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (12/11/2025).
Sejalan dengan target tersebut, BI lantas memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 mencapai 5,33%, sedikit di bawah asumsi makro yang digunakan pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
(lav)


























