Penarikan kredit pajak konsumen hingga US$7.500 (Rp125 juta) oleh pemerintahan Donald Trump setelah September, serta pelonggaran standar efisiensi bahan bakar, membuat pasar EV AS terpuruk. Penjualan EV di AS pada November anjlok 41% dibandingkan tahun sebelumnya dan penjualan tahunan mobil listrik penumpang diperkirakan menyusut 15% pada 2026, menurut BloombergNEF.
Bahkan di China yang merupakan pasar EV terbesar dunia, analis memperkirakan perlambatan tipis pertumbuhan penjualan, antara lain akibat menyusutnya dukungan pemerintah. Beijing memangkas insentif pajak EV menjadi setengah untuk 2026, sementara program tukar tambah kendaraan lama dengan yang baru diperketat melalui pembatasan kelayakan. Otoritas juga mengkritik “persaingan ala adu cepat” di sektor otomotif yang padat pemain, serta menindak diskon agresif yang digunakan untuk menopang permintaan yang melemah.
“Pemerintah China jelas berupaya mendinginkan perang harga,” ujar Michael Dunne, CEO Dunne Insights, firma konsultan industri otomotif berbasis di California.
Persaingan ketat membuat BYD Co., juara EV China, mencatatkan pertumbuhan penjualan tahunan terlemah sejak 2020 pada tahun lalu, seiring para pesaing seperti Geely Automobile Holdings Ltd. dan raksasa teknologi Xiaomi Corp. mulai mencuri pangsa pasar. Produsen otomotif China juga menghadapi perlambatan saat mencoba berekspansi ke pasar yang lebih menantang, seperti kota-kota kecil dan wilayah pedesaan.
Penjualan EV penumpang di China, termasuk plug-in hybrid dan extended-range hybrid diperkirakan mencapai 15,6 juta unit pada 2025, naik 27% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut proyeksi Bloomberg Intelligence. Untuk 2026, penjualan diproyeksikan hanya tumbuh 13%.
Produsen otomotif China semakin agresif menggarap pasar ekspor seiring permintaan domestik melemah. Dalam sembilan bulan pertama 2025, perusahaan China menjual hampir satu juta EV ke luar negeri, melonjak 54% dibandingkan 2024.
Ekspansi penjualan luar negeri akan berlanjut pada 2026. BYD sendiri menargetkan ekspor 1,6 juta kendaraan, menurut analis Citi, sementara merek seperti Zeekr milik Geely, Chery Automobile Co., dan SAIC Motor Corp. juga membidik pasar luar negeri.
Meski Uni Eropa memberlakukan tarif, kawasan tersebut tetap menjadi tujuan utama kendaraan buatan China, menurut BloombergNEF. Namun, Uni Eropa baru-baru ini melonggarkan larangan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal, dan penjualan EV pun melambat.
Di tengah memburuknya kebijakan, fundamental ekonomi EV justru membaik. Keterjangkauan harga selama ini menjadi salah satu hambatan terbesar adopsi EV di AS, namun harga baterai, komponen termahal kendaraan listrik kembali turun 8% pada 2025, menurut estimasi BloombergNEF. “Produsen yang mampu menekan biaya dan menawarkan model terjangkau di segmen kendaraan paling diminati berpeluang mencatatkan pertumbuhan penjualan berkelanjutan,” kata analis BloombergNEF, Huiling Zhou, dalam laporan terbaru.
Di Amerika Serikat, produsen diperkirakan meluncurkan sejumlah model baru pada 2026 dengan banderol jauh di bawah harga rata-rata mobil bermesin pembakaran internal. Segmen paling manis di pasar otomotif AS adalah SUV menengah dengan harga US$35.000 (Rp585 juta) atau lebih rendah. Konsumen Amerika membeli sekitar 2,5 juta SUV menengah setiap tahun, dan sekitar 40% di antaranya berada di bawah ambang harga tersebut.
Setidaknya akan ada lima model baru atau yang mengalami perombakan besar yang meluncur di kisaran harga tersebut pada 2026, termasuk Toyota C-HR BEV, Subaru Uncharted, Kia EV3, serta satu model anyar dari perusahaan rintisan Slate Auto.
(bbn)






























