Bagi negara berkembang, kondisi tersebut bisa jadi sinyal bahwa ruang gerak kebijakan moneter makin sempit.
Meski pada akhirnya investor global merespons positif sikap lunak yang mulai ditunjukkan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez. Pasar menganggap langkah ini dapat membuat ketidakpastian sedikit mereda dan membuat arah mata uang di pasar Asia bergerak di zona hijau.
Tapi, berbeda dengan rupiah. Di saat mayoritas mata uang Asia menghijau imbas melunaknya Rodriguez, laju penguatan rupiah di pasar spot masih dalam kondisi terbatas karena tekanan inflasi.
Dari sudut pandang BI, stabilitas nilai tukar akan menjadi prioritas utama. Meski inflasi masih dalam target, arah pergerakannya yang menanjak dapat membuat BI bersikap lebih hati-hati.
Dalam skenario ini, menjaga suku bunga acuan tetap berada di level sekarang jadi pilihan paling rasional untuk menyeimbangkan mandat BI terkait pengendalian inflasi dan stabilitas sitem keuangan.
Apalagi masuk kuartal I-2026, ada faktor musiman bulan puasa pada Februari dan Idul Fitri pada Maret, yang dapat mengerek laju inflasi lebih lanjut. Inflasi tahunan diprediksi melonjak menjadi 3,50% secara tahunan pada Januari. Lalu, faktor musiman akan menaikkan laju inflasi menjadi 4,90% secara tahunan pada Februari.
Menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, lonjakan inflasi yang tajam berpotensi memicu volatilitas bersar pada pergerakan rupiah, sehingga memaksa BI memprioritaskan kebijakan pro-stabilitasi pada kuartal I-2026.
"Bank Indonesia cenderung menunda lebih lanjut siklus penurunan suku bunga dalam kondisi ini. Kami memperkirakan Kementerian Keuangan akan mendukung langkah stabilisasi BI dengan menerbitkan obligasi global berdenominasi valuta asing (INDON) secara agresif pada kuartal I-2026)," kata laporan Mega Capital Sekuritas, Senin (5/1/2026).
Mengedepankan stabilitas bukan berarti tidak pro-pertumbuhan. Sebagai catatan, sepanjang 2025, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebanyak lima kali. Total bunga yang dipangkas sebesar 125 basis poin, dari 6% menjadi 4,75%.
Mengingat inflasi Indonesia berada di kisaran target tapi ketegangan geopolitik memburuk dan dapat memicu volatilitas tajam di pasar keuangan, agaknya BI akan cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat lebih lama dari perkiraan pasar.
Dengan skenario itu, peluang BI menurunkan suku bunga tampaknya semakin kecil. Paling tidak, sampai tekanan inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda secara konsisten, dan ketidakpastian eksternal berkurang.
(riset/aji)





























