Selain itu, Chris juga menyoroti potensi penjualan aset non-inti, seperti bisnis serat optik wholesale atau menara telekomunikasi, yang dinilai dapat memberikan tambahan ruang bagi perusahaan dalam meningkatkan pembayaran dividen.
Sejalan dengan pandangan tersebut, riset Bina Artha Sekuritas mencatat bahwa Telkom Indonesia membukukan pendapatan Rp36,6 triliun pada kuartal III-2025, turun 0,9% secara tahunan (YoY) namun membaik 0,7% secara kuartalan (QoQ). Untuk periode sembilan bulan 2025, pendapatan tercatat Rp109,6 triliun.
Perbaikan kinerja kuartalan tersebut terutama didorong oleh kenaikan average revenue per user (ARPU) seluler, seiring dengan upaya “market repair” yang dilakukan industri.
Segmen Data, Internet & IT Services tercatat menurun 1,8% YoY, namun tumbuh 4,8% QoQ menjadi Rp23,01 triliun, meskipun trafik data menurun 3,0% QoQ menjadi 5.757 petabyte. ARPU seluler meningkat menjadi Rp43.000, dibandingkan Rp41.000 pada kuartal sebelumnya, sementara jumlah pelanggan seluler turun 0,5% QoQ menjadi 157,58 juta akibat rasionalisasi kartu perdana.
Di sisi layanan fixed broadband, pendapatan IndiHome tercatat turun 2,6% YoY dan 1,6% QoQ menjadi Rp6,48 triliun. Meski jumlah pelanggan meningkat 7,5% YoY menjadi 11,54 juta, ARPU turun 9,4% YoY menjadi Rp216.700, seiring pergeseran preferensi pelanggan ke paket broadband-only dibandingkan bundling IPTV dan telepon.
Manajemen TLKM merevisi panduan pendapatan tahun buku 2025 dari sebelumnya diproyeksikan relatif datar menjadi sedikit terkontraksi, namun tetap mempertahankan target margin EBITDA di kisaran 50%.
Spin Off
Dari sisi restrukturisasi aset, Telkom telah melangkah lebih lanjut dalam spin-off aset serat optik ke entitas baru PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF). Perusahaan menandatangani perjanjian bersyarat pada 20 Oktober 2025 untuk pengalihan aset senilai Rp79 triliun.
Tahap pertama mencakup 56% aset infrastruktur dengan nilai Rp35,78 triliun, menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB 12 Desember 2025, dengan target penyelesaian 26 Januari 2026. Tahap kedua direncanakan rampung pada semester II-2026.
Aset yang dialihkan meliputi 83.000 kilometer jaringan backbone dan sekitar 500.000 kilometer jaringan akses (FTTx). TIF diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan Rp26 triliun dengan EBITDA Rp9–10 triliun.
Spin-off ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi aset, mempertajam fokus bisnis Telkom, serta membuka nilai jaringan fiber. Perseroan juga berencana mengundang mitra strategis untuk mengambil 20–30% saham di TIF.
Berdasarkan kondisi tersebut, Bina Artha Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp4.000/saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 13%, menggunakan valuasi 17 kali forward price to earnings (P/E).
Sedang dalam konsensus Bloomberg, 30 analis merekomendasikan buy saham TLKM. Hanya ada 13 analis yang merekomendasikan hold, tanpa ada satu pun analis yang merekomendasikan sell.
Target harga saham TLKM dalam konsensus tersebut ada di Rp3.807/saham. Dengan harga saham TLKM saat ini di kisaran Rp3.530/saham, maka ada potensi kenaikan atau upside sekitar 7,8%.
Salah satu analis yang merekomendasikan buy saham TLKM adalah, Bob Setiadi dari CGS International. Ia memberikan target harga Rp4.100/saham, menjadi salah satu target harga tertinggi.
Jika mengacu pada target harga dari CGS International, maka potensi upside saham TLKM lebih tinggi, sekitar 16%.
(dhf)





























