Faisal mengatakan, proyeksi tersebut mempertimbangkan laporan realisasi penerimaan bea keluar dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang juga masih cukup lemah.
Hal tersebut. lanjut dia, juga sebagai cerminan proses normalisasi ekspor usai terjadinya pengapalan yang dimajukan (front-loading) menjelang pemberlakuan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) serta melemahnya harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) seiring normalisasi permintaan dari India.
"Meski demikian, tekanan penurunan ekspor tersebut sebagian tertahan oleh penguatan ekspor ke Tiongkok, khususnya pada produk nikel olahan," tutur dia.
Sementara itu, impor diproyeksikan akan tumbuh 3,81% yoy pada November 2025, meskipun terjadi kontraksi secara bulanan sebesar 6,05%, sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen penurunan harga minyak global. Hal ini diharapkan dapat mencerminkan penguatan permintaan domestik, terutama untuk bahan baku dan barang modal.
Di sisi lain, konsensus ekonom/analis yang dihimpun Bloomberg memperkirakan ekspor pada November masih akan berada di zona negatif, dengan median estimasi pertumbuhan -1,6% yoy.
Konsensus pasar menghasilkan median proyeksi surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,06 miliar. Lebih tinggi ketimbang Oktober yaitu US$ 2,39 miliar.
(lav)































