Porsi kepemilikan asing yang naik secara gradual ini setidaknya mencerminkan bahwa pasar obligasi Indonesia mulai kembali masuk radar investor setelah tekanan jual cukup konsisten sepanjang Agustus hingga November 2025. Terlihat pada chart, level kepemilikan tersebut masih jauh dari tren akumulasi kuat seperti yang terjadi pada periode risk-on sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa investor tetap berhati-hati terhadap pasar Indonesia.
Dari sisi eksternal, kehati-hatian pasar mencerminkan adanya tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun kembali naik mendekati 4,7%, sementara indeks dolar AS masih terus menunjukkan kekuatannya di akhir tahun 2025 hingga awal 2026 ini.
Kondisi ini dapat membuat selisih imbal hasil antara SUN dan UST makin sempit, khususnya untuk produk bertenor panjang, sehingga dapat berpotensi mengurangi daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor luar.
Sentimen Domestik
Kehati-hatian investor global terhadap pasar Indonesia agaknya masuk akal, mengingat volatilitas juga diperkirakan masih relatif tinggi pada bulan pertama tahun ini, lantaran meningkatnya risiko inflasi.
Tekanan inflasi datang dari faktor musiman Ramadan dan Idulfitri, begitu juga dengan tingginya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), seperti disebut oleh Lionel Priyadi, Fixed Income dan Macro Strategist di Mega Capital Sekuritas. Lonjakan permintaan domestik berisiko mendorong inflasi inti maupun volatile food, sehingga bisa membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Di sisi lain, tekanan fiskal juga masih belum lepas dari perhatian investor. Hingga akhir November 2025, defisit APBN tercatat mencapai 2,35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau setara Rp560,3 triliun. Pelebaran defisit ini jadi sinyal penting bagi pelaku pasar karena akan berimplikasi langsung pada kebutuhan pembiayaan pemerintah di tahun 2026 ini.
Dampak ke Rupiah
Naiknya arus investasi ke pasar obligasi ini dapat memberikan bantalan jangka pendek dan dapat membantu menahan tekanan depresiasi, terutama di tengah likuiditas global yang cenderung tipis di awal tahun. Akan tetapi, perlu dicermati bahwa penguatan tersebut masih bersifat rapuh dan sangat bergantung pada keberlanjutan arus dana asing serta stabilitas pasar global.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan sikap hati-hati. Meski pasar mulai memperhitungkan peluang penurunan suku bunga acuan, akan tetapi risiko inflasi domestik dan penyempitan selisih yield membuat ruang pelonggaran moneter ini mungkin jadi semakin terbatas.
(dsp/aji)





























