Walaupun Trump berkampanye dengan janji untuk menarik AS dari berbagai konflik dunia, tahun pertamanya menjabat justru didominasi oleh kebijakan luar negeri yang agresif. Ia berulang kali menggunakan kekuatan militer jauh dari perbatasan AS, mulai dari Somalia, Yaman, dan Suriah, hingga serangan masif terhadap instalasi nuklir Iran serta kampanye militer terhadap pemerintah Venezuela dengan menyita kapal tanker minyak dan serangan terhadap kapal-kapal yag dituding mengangkut narkoba.
Serangan di Nigeria tersebut mendapat pujian dari sebagian sekutu Trump, termasuk provokator sayap kanan Laura Loomer, yang sebelumnya kerap mengkritik tindakan militer AS di kawasan Karibia.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump juga menyoroti Nigeria atas apa yang ia dan para pendukungnya klaim sebagai serangan yang menargetkan umat Kristen.
Pejabat Nigeria dengan tegas menolak narasi tersebut. Mereka menyatakan ancaman yang dihadapi berasal dari kelompok teroris dan merupakan bagian dari ketidakstabilan yang lebih luas di kawasan Afrika tersebut, sekaligus menyoroti kompleksitas politik di balik aksi militer internasional terbaru pemerintahan AS.
“Label yang menyederhanakan masalah tidak akan menyelesaikan ancaman yang kompleks,” tulis Tuggar di akun X miliknya. “Terorisme di Nigeria bukanlah konflik agama; ini adalah ancaman keamanan regional.”
Tuggar menjelaskan bahwa serangan AS didasarkan pada intelijen dari pemerintah di Abuja dan merupakan hasil komunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Hingga kini, AS belum merilis detail kerusakan akibat serangan tersebut, selain video peluncuran rudal dari kapal perang yang diunggah oleh Pentagon. Namun, dalam wawancara dengan Politico yang terbit hari Jumat, Trump mengeklaim serangan itu telah "menghancurkan" kamp-kamp teroris. Ia bahkan mengaku sengaja menunda serangan tersebut selama satu hari agar bertepatan dengan hari Kamis, dan menyebutnya sebagai "hadiah Natal."
Serangan tersebut menghantam wilayah Sokoto di barat laut Nigeria, daerah di mana seorang uskup Katolik setempat pada Oktober lalu mengatakan bahwa umat Kristen tidak menghadapi penganiayaan. Kementerian Pertahanan Nigeria menyatakan target serangan terkait dengan kelompok ISIS.
Menteri Informasi Nigeria Mohammed Idris mengungkapkan lewat media sosial bahwa serangan diluncurkan dari kapal di Teluk Guinea menggunakan drone MQ-9 Reaper. Sebanyak 16 amunisi berpandu GPS ditembakkan untuk melumpuhkan elemen ISIS yang mencoba memasuki Nigeria melalui koridor Sahel.
“Melihat apa yang kita ketahui sejauh ini, serangan ini adalah sinyal untuk sesuatu yang lebih besar,” kata Confidence MacHarry, analis keamanan di SB Morgen Intelligence, Lagos. “Sangat mungkin serangan di masa depan akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.”
Nigeria, negara berpenduduk sekitar 230 juta jiwa dan yang terpadat di Afrika, terbagi relatif seimbang antara populasi Muslim dan Kristen, serta telah dilanda kekerasan selama beberapa dekade.
“Tampaknya kita berada pada momen di mana otoritas Nigeria akhirnya menyadari bahwa mereka tidak bisa menghadapi ini sendirian. Mereka butuh bantuan, dan pemerintah AS tampak sangat bersedia memberikan bantuan itu,” ujar Ebenezer Obadare, pakar studi Afrika di Council on Foreign Relations, Washington.
Ketegangan meningkat sejak November lalu ketika Trump mengancam aksi militer jika kekerasan terus berlanjut. Tak lama setelah ancaman itu, kelompok teroris menculik lebih dari 200 anak dari sebuah sekolah Katolik, yang menurut pemerintah baru saja dibebaskan awal pekan ini.
(bbn)






























