Logo Bloomberg Technoz

“Ini akan memengaruhi setiap pekerjaan, setiap aplikasi, setiap basis data, dan akan membuat orang jauh lebih efisien,” kata Dimon.

“Seperti banyak dari Anda yang terus-menerus mengklik dan mencatat. Anda tidak perlu melakukannya karena memang akan terjadi — Anda cukup meringkas apa yang saya katakan. Anda tinggal menekan tombol, dan Anda tidak perlu membuang-buang waktu.”

Meski begitu, lanjut Dimon, bagaimanapun peningkatan efisiensi juga dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja di bidang keamanan siber. “Kami menggunakannya untuk mengenali risiko dan penipuan, dan orang jahat akan menggunakannya,” kata Dimon. 

“Jadi, kami harus menggunakannya untuk melawan orang jahat. Kami harus menggunakannya untuk menjadi semakin baik di dunia siber.”

Dalam operasional, “ujung tombak” penggunaan teknologi baru ini, para eksekutif memperkirakan jumlah karyawan bakal turun 10% hingga tahun 2029 mendatang, kata Marianne Lake, CEO Perbankan Konsumen dan Komunitas.

Sementara CFO JPMorgan Chase, Jeremy Barnum mengatakan mereka meminta orang-orang untuk menahan pertumbuhan jumlah karyawan jika memungkinkan dan meningkatkan fokus mereka pada efisiensi.

Dimon menuturkan, meskipun masa depan yang lebih efisien dengan jumlah hari kerja dan hari libur yang seimbang mungkin akan terwujud dalam beberapa dekade mendatang, untuk saat ini perekrutan mungkin bakal melambat.

Strategi Goldman Sachs

Di samping itu, melalui memo yang dirilis awal tahun ini, CEO Goldman Sachs, David Solomon menyebut AI akan memengaruhi perusahaannya. Kecerdasan buatan itu pun dapat mendorong efisiensi di perusahaan mereka atau memperlambat perekrutan dan menyebabkan PHK, dengan pemangkasan beberapa karyawan setiap tahun.

“Kami meminta orang-orang untuk menahan diri dari pertumbuhan jumlah karyawan jika memungkinkan dan meningkatkan fokus mereka pada efisiensi,” bunyi memo tersebut. 

Menurut perusahaan, ini akan menjadi bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk menemukan struktur tim yang tepat dan untuk memperoleh ketangkasan yang lebih besar. 

Juru bicara bank tersebut kepada Business Insider menyatakan bahwa perusahaan mengantisipasi peningkatan jumlah karyawan pada akhir 2025, dan pada kuartal ketiga tahun ini perusahaan mengumumkan sudah meningkatkan tenaga kerja globalnya sebesar 5% menjadi sekitar 48.000 posisi.

Goldman Sachs memfokuskan perekrutannya pada talenta yang tepat. “Kami membutuhkan lebih banyak orang yang bernilai tinggi,” ujar Solomon kepada Axios pada Oktober 2025.

“Kami mampu merekrut lebih banyak orang bernilai tinggi untuk memperluas jangkauan kami dan terus mengembangkan, serta memperluas bisnis kami.” Solomon meyakini bahwa AI akan terus “menambah” jumlah karyawan perusahaan selama 10 tahun ke depan.

“Sudah barang tentu ada hal-hal di mana kami akan membutuhkan lebih sedikit karyawan — tetapi saya ingin memiliki kapasitas untuk membuat lebih banyak orang meluangkan waktu dengan klien,” kata Solomon di sebuah konferensi bulan lalu, seraya menambahkan bahwa AI bakal memberikan dampak paling langsung pada pengembangan software. 

Solomon menambahkan  bahwa disrupsi akan terjadi, tetapi dia menilai ekonomi AS sangat lincah dan sangat fleksibel. “Dan, ketika Anda melihat teknologi yang sudah membanjiri publik selama ratusan tahun, kami beradaptasi,”  ujar dia.

“Kami menemukan bisnis baru. Kami menemukan pekerjaan baru. Saya rasa kali ini tidak akan berbeda.”

Salomon kemudian sepakat bahwa kemungkinan pekerja profesional bakal paling terdampak dari adanya AI. “Kebutuhan akan beberapa pekerjaan kantoran 'kerah putih' akan berkurang, tetapi akan diambil alih di sektor-sektor ekonomi lainnya,” kata dia.

(far/wep)

No more pages