Mengulas Desember 2020, sentimen positif bertandang dari regional dan juga global. Kala itu, IHSG bangun berdiri cepat ke teritori positif berkat berbagai kebijakan stimulus dan insentif pemerintah, perbaikan ekonomi, percepatan vaksin, mengatasi penyebaran Covid-19, diiringi pemberian bantuan tunai/non-tunai kepada masyarakat.
Euforia pasar menyambut vaksin Sinovac di Indonesia, yang masuk pertama kali pada 6 Desember 2020, langsung mengatrol IHSG hingga menguat signifikan, memberikan harapan akan keberhasilan diatasinya masa pandemi dan mendorong pulihnya ekonomi nasional.
Dari global, sejumlah negara di dunia juga bergerak cepat mendorong optimisme akan pemulihan ekonomi, termasuk negara Amerika Serikat yang terus gencar meriset mendalam vaksin Covid-19 seperti Pfizer dan Moderna.
Sentimen berikutnya berasal dari kinerja neraca perdagangan Indonesia yang mampu membukukan surplus di tengah tahun 2020 yang penuh tantangan. Dengan proyeksi surplus pada neraca transaksi berjalan serta neraca finansial, posisi surplus diestimasikan terus berada dalam tren ekspansif.
Dengan pencapaian tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia November 2020 tetap tinggi, mencapai US$133,6 miliar, berada di atas standar kecukupan internasional 3 bulan impor. Senada, cadangan devisa Indonesia pada Desember 2020 berhasil mencapai US$135,9 miliar, meningkat dari November.
Menurut catatan, RDG BI pada 16-17 Desember 2020 juga memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate 3,75%. BI juga memperkuat sinergi kebijakan dan mendukung berbagai kebijakan lanjutan untuk membangun optimisme pemulihan ekonomi nasional, melalui pembukaan sektor ekonomi produktif dan aman Covid-19, akselerasi stimulus fiskal, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran, melanjutkan stimulus moneter dan makroprudensial.
Santa Claus Rally Desember 2025
Untuk sentimen yang mendukung Santa Claus rally di Desember tahun ini, ada beberapa sentimen dan katalis yang dapat memengaruhi IHSG baik dari sisi positif dan juga sebaliknya.
Pertama, pada pembuka Desember terdapat rilis data aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI). Tercatat, aktivitas manufaktur Indonesia kembali mengalami ekspansi. Ini sudah terjadi selama 4 bulan beruntun. S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur di Indonesia pada November adalah 53,3.
Angka ini lebih tinggi dan jauh lebih optimistis ketimbang Oktober yang sebesar 51,2. PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang berada di fase ekspansi.
PMI manufaktur Indonesia sudah 4 bulan berturut–turut berada optimis di atas 50. Terlebih lagi ekspansinya menjadi yang terbaik dalam 9 bulan.
Hasil survei PMI manufaktur terbaru Indonesia memegang kabar positif. Kunci dari ekspansi pada November adalah pertumbuhan pemesanan baru (new orders) yang kuat. Tingkat pertumbuhannya menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2023.
Dunia usaha pun mengungkapkan bahwa mereka menambah rekrutmen pegawai. Ini sudah terjadi selama 4 bulan beruntun tanpa putus.
Manufaktur menjadi penting untuk menjadi perhatian dunia investasi. Manufaktur adalah kontributor utama pembentukan Produk Domestik Bruto dari sisi lapangan usaha. Ketika sektor ini tumbuh dan berekspansi, maka ekonomi secara keseluruhan akan ikut tumbuh.
Namun memang, IHSG masih terbebani oleh rilis data inflasi, dan juga neraca perdagangan, Rilisnya data inflasi RI pada November, yang hasilnya melambat berada pada level inflasi 0,17% secara bulanan (month–to–month/mtm). Lebih rendah ketimbang Oktober yang sebesar 0,28% mtm.
Sementara, dibanding November tahun lalu (year–on–year/yoy), inflasi tercatat 2,72% yoy. Lebih rendah ketimbang realisasi Oktober sebelumnya 2,86% yoy.
Perlambatan laju inflasi ini menunjukkan tekanan permintaan pasar dalam negeri yang masih lemah, tercermin pada inflasi inti 2,36% yang stagnan dibanding realisasi inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,36%.
Agenda Penting Desember 2025
Selanjutnya pada Desember 2025 ini akan terdapat agenda laporan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada 9 Desember, angka penjualan eceran atau retail sales yang diumumkan pada 10 Desember, yang sebelumnya didahului cadangan devisa atau cadev pada 5 Desember.
Termasuk akan ada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait suku bunga acuan BI Rate pada 17–18 Desember 2025, diiringi pertumbuhan kredit atau loan growth.
Adapun jika dibandingkan dengan indeks regional, atau rekan-rekannya di Asia, IHSG kompak dengan yang lainnya di data rata-rata historis kinerja Desember yang hijau cerah, di mana Straits Times Index Singapura menguat 0,81%, indeks Korea Stock Exchange atau KOSPI meninggi 1,15%. Lebih potensial, Hang Seng Index Hong Kong mencatatkan kenaikan 1,59% dan FTSE KLCI Malaysia yang berhasil menguat 2,08% pada data rata–rata perdagangan saham dalam 10 tahun.
Jika mencermati lebih lanjut, kenaikan paling tinggi dilangsungkan oleh FTSE KLCI Malaysia dengan penguatan mencapai 2,08% pada data rata–rata perdagangan saham Desember dalam 10 tahun.
Sentimen FTSE KLCI Malaysia yang Pimpin Kenaikan
Adapun sentimen yang memengaruhi laju indeks utama Malaysia ditopang oleh daya beli domestik yang tangguh di negaranya, pertumbuhan berkelanjutan dari pendapatan berbagai sektor, serta peningkatan investasi asing langsung seiring pergeseran rantai pasok manufaktur di regional, mendorong laba korporasi yang positif.
Menyitir data dari The Malaysian Reserve, Bursa tersebut juga mencatat penerbitan saham–saham IPO tertinggi sepanjang sejarah dan untuk pertama kalinya melihat kapitalisasi pasarnya melampaui MYR2 triliun.
Bursa Saham Malaysia mencapai tonggak penting pada 2024, dengan 55 IPO tercatat di Bursa— yang merupakan jumlah tertinggi dalam 19 tahun, melampaui target sebelumnya sebanyak 42 IPO.
Ditambah lagi, pencapaian tersebut juga disertai aksi beli bersih (net buy) oleh dana global atas saham–saham Malaysia senilai US$600.000 pada Desember, tertinggi dalam satu bulan, sebelum indeks menutup tahun dengan kenaikan menuju level 1.642,33.
(fad)





























