Dari sisi komoditas, penyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewani/nabati dengan nilai mencapai US$28,12 miliar, diikuti oleh bahan makar mineral senilai US$22,59 miliar, serta besi dan baja sebesar US$15,79 miliar.
Sementara, komoditas penyumbang defisit terbesar adalah mesin dan peralatan mekanis dengan nilai mencapai US$23,28 miliar, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik senilai US$ 9,87 miliar, dan plastik serta barang darinya senilai US$6,38 miliar.
BPS melaporkan neraca dagang Indonesia pada Oktober 2025 mencatatkan surplus US$2,39 miliar. InI menjadikan Indonesia mengalami surplus selama 66 bulan sejak Mei 2020.
Surplus tersebut ditopang oleh komoditas non migas sebesar US$4,32 miliar dengan komoditas utama lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral serta besi dan baja.
“Neraca dagang kumulatif, Januari hingga Oktober 2025 tercatat surplus US$35,88 miliar. Surplus ini ditopang komoditas non migas US$51,51 miliar serta migas masih defisit US$15,63 miliar,” ungkap Pudji.
Di saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$1,92 miliar dengan komoditas penyumbang adalah minyak mentah dan hasil minyak.
(lav)






























