Sementara itu, hanya tiga indeks yang menemani IHSG di zona merah, yaitu KOSPI (Korea Selatan), KLCI (Malaysia), dan juga Hang Seng (Hong Kong), yang terpangkas masing–masing 1,51%, 0,8%, dan 0,34%.
Menguat dan melesatnya Bursa Asia tersengat sentimen yang datang dari Bank Sentral Amerika Serikat, investor menyambut baik tanda-tanda pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Kenaikan saham global selama sepekan mencerminkan menguatnya ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan The Fed. Pasar berjangka memperkirakan peluang mencapai 80% suku bunga bakal digunting sebesar 25 basis poin bulan depan.
Terlebih lagi, ada peluang mencapai tiga kali lagi pemangkasan bunga acuan The Fed hingga Desember 2026.
Dari dalam negeri, mengutip Phintraco Sekuritas dalam riset terbarunya, pelemahan IHSG hari ini antara lain dipicu oleh profit taking setelah sempat mencapai rekor tertinggi baru pada pekan ini.
Pada perdagangan Jumat, saham sektor teknologi mencatatkan koreksi terbesar, sedangkan saham sektor energi membukukan penguatan terbesar.
“Rupiah melemah ke level Rp16.675/US$, setelah sempat menguat pada pekan ini,” jelas Phintraco, Jumat, yang juga menjadi sentimen pelemahan IHSG hari ini.
Investor akan mencermati data ekonomi pada pekan depan, yaitu indeks PMI manufacturing, neraca perdagangan dan inflasi, serta cadangan devisa.
Secara teknikal, lanjut Phintraco, positive slope histogram MACD semakin melemah dan indikator stochastic RSI bergerak menurun. IHSG ditutup di bawah level MA–5, namun masih di atas level MA–20. Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways di kisaran 8.470 – 8.600 selama pekan depan.
“Namun secara jangka menengah dan jangka panjang, IHSG masih di area bullish.”
(fad/wep)































