Logo Bloomberg Technoz

Senada, kinerja saham BBSI juga kurang memuaskan. Sepanjang 2025 harga perseroan melemah 5% year-to-date, biarpun perdagangan hari ini berhasil menguat 60 poin atau 1,52% di Rp3.990/saham.

Kemudian, Bank Neo Commerce yang juga bank digital, berfokus pada layanan perbankan yang mudah diakses dari ponsel, termasuk transfer dana, pembukaan deposito, dan pembayaran tagihan, dengan aplikasi neobank.

Berbeda dengan pesaingnya, laju saham BBYB jauh lebih baik dengan keberhasilan mencatat penguatan 80,73% year–to–date, bersamaan dengan solidnya harga saham pada perdagangan hari ini di harga Rp394/saham.

Allo Bank Indonesia merupakan bank digital milik Mega Corpora, dengan Allo Apps yang menyediakan layanan keuangan seperti e-wallet Allo Pay, rekening tabungan digital Allo Prime, rekening deposito, dan paylater.

Performa harga saham BBHI terbilang jauh lebih positif dibanding yang lain, dengan melejit 112,14% year–to–date, yang senada dengan laju hari ini menguat 15 poin dan 1,02% di Rp1.485/saham.

IPO Super Bank Indonesia (SUPA)

Super Bank Indonesia akan menawarkan 4,4 miliar saham dengan rentang harga Rp525/saham hingga Rp695/saham. Sehingga, perusahaan berpotensi memperoleh dana segar mencapai Rp3,06 triliun.

Seluruh dana yang diperoleh dari IPO, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan untuk dua kebutuhan utama. Mencapai 70% dari dana tersebut akan digunakan sebagai modal kerja guna mendukung kegiatan penyaluran kredit perseroan.

Sementara itu, sejumlah 30% sisanya akan dipergunakan untuk belanja modal dalam rangka mendukung pengembangan usaha, termasuk namun tidak terbatas pada pengembangan produk, penguatan teknologi informasi, serta berbagai kebutuhan lain yang mendukung pertumbuhan perseroan.

Susunan pemegang saham SuperBank sebelum aksi IPO ialah Elang Media Visitama (31,11%) anak usaha (EMTK), PT Kudo Teknologi Indonesia (19,16%), dan A5–DB Holdings (11,52%), GXS Bank (12%), KakaoBank (9,95%), dan Singtel Alpha Investments (8,46%). 

Setelah IPO nantinya, Elang Media Visitama (27,07%) anak usaha (EMTK), PT Kudo Teknologi Indonesia (16,67%), dan A5–DB Holdings (10,03%), GXS Bank (10,44%), KakaoBank (8,66%), dan Singtel Alpha Investments (7,36%).

Superbank menunjuk empat sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek, yakni PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Tbk dan PT Sucor Sekuritas. Adapun jadwal IPO adalah sebagai berikut.

- Masa Penawaran Awal : 25 November – 1 Desember 2025
- Perkiraan Tanggal Efektif : 8 Desember 2025
- Perkiraan Masa Penawaran Umum Perdana Saham : 10 – 15 Desember 2025 
- Perkiraan Tanggal Penjatahan : 15 Desember 2025
- Perkiraan Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik : 16 Desember 2025
- Perkiraan Tanggal Pencatatan Saham BEI : 17 Desember 2025

Menyitir riset yang dipublikasikan Stockbit Sekuritas Digital, melalui Stockbit Snips, berdasarkan harga penutupan perdagangan Selasa (25/11/2025), rentang valuasi IPO SUPA secara P/BV berada di bawah saham ARTO dan saham BBHI, biarpun tidak serendah valuasi saham BBYB.

Valuasi Saham Bank Digital SUPA (Sumber Riset Stockbit Snips)

Namun, annualized ROE SUPA per delapan bulan pertama tahun 2025 tercatat lebih rendah dibanding peers–nya, yang dinilai sebagai hal yang wajar mengingat perbedaan fase pertumbuhan (life–cycle) antara perseroan dengan kompetitornya.

“Kami menilai ekosistem digital SUPA yang kuat berpotensi menjadi katalis pertumbuhan perseroan ke depan melalui akuisisi nasabah yang efisien, yang pada akhirnya dapat meningkatkan Dana Pihak Ketiga, ekspansi penyaluran kredit, maupun pertumbuhan Non–Interest Income," jelas tim riset Stockbit.

Katalis ini menjadi semakin relevan di tengah wacana penggabungan antara GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) dengan Grab. Hingga September 2025, SUPA telah memiliki 5 juta nasabah, meningkat mencapai 25% dari posisi Juni 2025 pelaporan sebelumnya.

“Namun, tingginya ketergantungan SUPA terhadap ekosistem Grab merupakan salah satu risiko utama (concentration risk) karena kinerja perseroan akan cenderung memiliki korelasi yang tinggi dengan kinerja afiliasinya,” tegas Stockbit.

Risiko lain yang perlu dicermati oleh investor, lanjut Stockbit, dalam menganalisis industri perbankan digital adalah risiko IT — baik terkait keamanan, kemampuan untuk mendukung operasional harian, serta keunggulan kompetitif dibandingkan para pesaing.

(fad/aji)

No more pages