Saham-saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT ERA Media Sejahtera Tbk (DOOH) yang melesat 34,5%, saham PT Bundamedik Tbk (BMHS) melejit 34,5%, dan saham PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) menguat 34,4%.
Saham–saham yang melemah dan menjadi top losers antara lain saham PT Puri Global Sukses Tbk (PURI) yang jatuh 14,8%, saham PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) ambles 12,5%, dan saham PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) drop 10%.
Pada tutup perdagangan hari ini, Hang Seng (Hong Kong) memimpin penguatan dengan kenaikan mencapai 1,97%, menyusul IHSG (Indonesia) yang menguat 1,85%, ASX 200 (Australia) melesat 1,29%, Shenzhen Comp. (China) melejit 0,87%, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) terapresiasi 0,79%, Straits Time (Singapura) menguat 0,79%, PSEI (Filipina) mencatat kenaikan 0,41%, Weighted Index (Taiwan) meningkat 0,26%, KLCI (Malaysia) hijau 0,07%, dan Shanghai Composite (China) apresiasi 0,05%.
Adapun di sisi yang berseberangan, KOSDAQ (Korea) drop 0,87%, KOSPI (Korea Selatan) turun 0,19%, SETI (Thailand) melemah 0,13%, dan CSI 300 (China) merah 0,12%.
Menguatnya sejumlah indeks utama Bursa Saham Asia dan IHSG dipicu oleh optimisme para trader untuk pemangkasan suku bunga acuan bulan depan. Para pedagang telah meningkatkan taruhan pada penurunan suku bunga Fed pada pertemuan Desember, menurut CME FedWatch.
Atas katalis positif itu, pada perdagangan sebelumnya, 3 indeks utama di Wall Street finish di zona hijau. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 1,08%. Sedang S&P 500 dan Nasdaq Composite melonjak masing–masing 0,98% dan 0,88%.
Tim Research Phillip Sekuritas Indonesia memaparkan, Indeks Saham Asia mayoritas ditutup menguat didorong oleh harapan baru mengenai pemangkasan suku bunga di AS.
Presiden Federal Reserve Bank di New York John Williams mengatakan pihaknya melihat ruang untuk penurunan suku bunga dalam waktu dekat dengan alasan pelemahan di pasar tenaga kerja adalah sumber ancaman yang lebih besar bagi ekonomi AS dibanding dengan lonjakan inflasi.
Pernyataan ini dibuat sehari setelah data ketenagakerjaan (Non-Farm Payrolls) AS memperlihatkan meskipun terdapat lebih banyak pembukaan lapangan kerja di bulan September, Tingkat Pengangguran justru merangkak naik ke level tertinggi sejak tahun 2021.
“Spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) yang ketiga untuk tahun ini oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve) semakin menguat,” tulis riset harian Tim Research Phillip Sekuritas.
(fad)




























