Tony memastikan seluruh konsentrat yang diproduksi dari dua tambang tersebut dipasok ke smelter PT Smelting di Gresik, Jawa Timur.
Sementara itu, smelter Manyar saat ini hanya mengolah lumpur anoda yang merupakan produk sampingan PT Smelting, lumpur anoda tersebut dimurnikan untuk diekstrak emas, perak, hingga mineral ikutan lainnya.
“Dan kami saat ini kan sudah memulai produksi 30% di hulu ya, 30% di hulu dan konsentrat yang dihasilkan dari 30% ini akan seluruhnya dibawa ke PT Smelting. Itu smelter yang sudah beroperasi lama dan memang karena kami memiliki perjanjian dengan pihak Jepang sebagai operator untuk memprioritaskan smelter dalam negeri untuk PT Smelting dahulu,” tegas dia.
Untuk diketahui, smelter pertama milik Freeport yakni PT Smelting yang dibangun pada 1996 bersama konsorsium Jepang dan dioperasikan oleh Mitsubishi. PT Smelting terletak di Gresik, Jawa Timur dan menjadi smelter tembaga pertama di Tanah Air.
PT Smelting disebut mampu mengolah 1.00.000 ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya, Freeport memiliki smelter katoda tembaga di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, Jawa Timur. Pembangunan dimulai pada Oktober 2021, tetapi tertunda akibat pandemi Covid-19 sebelum akhirnya diresmikan pada Kamis (27/6/2024).
Smelter kedua PTFI ini merupakan smelter katoda tembaga dengan desain single line terbesar di dunia dan dirancang untuk mampu memurnikan konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi hingga 1,7 juta ton setelah beroperasi penuh.
Fasilitas ini dilengkapi unit refinery, unit pemurnian logam mulia, unit oksigen, unit asam sulfat, dan unit desalinasi serta unit effluent and wastewater treatment plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai high efficiency smelting and refining process.
Hanya berselang tiga pekan sejak diresmikan, smelter tembaga kedua Freeport tersebut mengalami insiden kebakaran hingga harus menjalani proses perbaikan dan penyetopan sementara produksi.
Akibat kejadian itu, Freeport diizinkan untuk melanjutkan ekspor konsentrat tembaga pada 2025. Izin ekspor konsentrat tembaga Freeport diberikan selama enam bulan yakni sejak 17 Maret 2025 hingga 16 September 2025.
(azr/wdh)






























