Logo Bloomberg Technoz

• Laba bersih: Rp792,38 miliar sepanjang 2025, hanya mampu tumbuh tipis 0,68% dari tahun sebelumnya.

• Jumlah toko: Membuka 70 toko baru sepanjang Kuartal III–2025, total 1.154 toko di seluruh Indonesia.

Tantangan dan Risiko

Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi penurunan harga saham MDIY:

• Beban tinggi: Rp2,011 triliun per 30 September 2025, meningkat 27,8% dari tahun sebelumnya.

• Profitabilitas rendah: Pendapatan tumbuh dua digit, namun laba bersih hanya mencatat kenaikan tipis.

• Tekanan teknikal: Indikator teknikal menunjukkan tren bearish (lower low lower high) tren turun, dengan harga berada di bawah Moving Average 50 dan sMA 100, serta stochastic di area level oversold, bersamaan dengan volume yang terbilang tipis.

Konsensus Pasar

Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg menunjukkan dari total 4 analis, sebanyak 3 di antaranya (75%) menyematkan rekomendasi beli (buy) terhadap saham MDIY. Sementara 1 analis (25%) memberikan rekomendasi tahan alias hold.

Adapun target harga MDIY dalam 12 bulan ke depan ada di Rp1.483/saham. Artinya, memang masih ada potensi kenaikan 39% dari posisi harga saat ini.

Konsensus pasar mengestimasikan laba bersih MDIY pada tahun penuh 2025 akan menyentuh Rp1,13 triliun. Jika benar terjadi, maka ada potensi pertumbuhan 5% dibanding tahun 2024.

Sementara pendapatan bersih MDIY pada 2025 diperkirakan mencapai Rp9,78 triliun. Jika terwujud, maka ada potensi lonjakan 44% ketimbang 2024.

Penurunan harga saham MDIY mencerminkan psikologis pasar terhadap beban operasional yang tinggi dan ekspektasi yang belum terpenuhi, terlihat dari laba bersih yang terbatas dibanding pertumbuhan besar pendapatan. 

Investor juga perlu mempertimbangkan pembagian dividen, di mana tahun buku 2024 kemarin MDIY belum memberikan dividen tahunan. Laba bersih yang sebesar Rp1,07 triliun itu sepenuhnya disimpan sebagai cadangan wajib dan laba ditahan.

Mengutip riset Sinarmas Sekuritas, risiko dan tantangan yang dihadapi perusahaan, juga jadi perhatian utama. Pertama ialah risiko eksekusi terkait ekspansi gerai yang agresif dapat memengaruhi profil pertumbuhan. Serta perlambatan belanja konsumen atau tekanan makro dapat menekan rata-rata nilai transaksi dan pertumbuhan jumlah transaksi.

(fad)

No more pages