Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham–saham juga menjadi pendorong IHSG pada perdagangan Sesi I. Saham–saham konsumen non primer, saham energi, dan saham keuangan mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat 2,71%, 1,04%, dan 0,68%.

Melesat tingginya IHSG sampai dengan ATH merupakan efek secara langsung dari kenaikan sejumlah saham Big Caps, yang didominasi saham perbankan besar.

Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (20/11/2025).

  1. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang 11,22 poin
  2. Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 10,77 poin
  3. Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 9,38 poin
  4. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menyumbang 5,01 poin
  5. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 4,91 poin
  6. Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 2,38 poin
  7. Bukit Uluwatu Villa (BUVA) menyumbang 2,38 poin
  8. Astra International (ASII) menyumbang 2,13 poin
  9. MD Entertainment (FILM) menyumbang 2,07 poin
  10. Bank Negara Indonesia (BBNI) menyumbang 2,04 poin

Adapun saham konsumen non primer juga jadi penopang penguatan IHSG, PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) yang menguat 30,4%, dan saham PT Bintang Oto Global Tbk (BOGA) yang mencetak kenaikan 25%.

Disusul oleh penguatan saham energi, saham PT GTS Internasional Tbk (GTSI) melejit 10,9%, saham PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) juga menguat dengan kenaikan 9,74%, dan saham PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) melesat 7,22%.

Melansir riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup menguat pada sesi pertama perdagangan Kamis. Penguatan ini sejalan dengan pergerakan positif sejumlah sektor, terutama Cyclicals yang memimpin kenaikan, disusul Energy, dan Financials. 

Dari sisi indikator modern, histogram MACD menunjukkan pelebaran dengan positive slope yang menandakan momentum bullish masih terjaga. 

“Oleh karena itu, kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.400 – 8.500 pada sesi kedua perdagangan hari ini,” sebut riset Phintraco.

Panin Sekuritas memaparkan, IHSG menguat seiring dengan sentimen positif di pasar, terutama dari Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sesuai perkiraan seiring dengan keyakinan bahwa inflasi akan tetap moderat dan upaya berkelanjutan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Serta data transaksi berjalan 3Q25 yang tercatat surplus sebesar +1,1% dari PDB (2Q25: -0,8% dari PDB; cons: +0,2% dari PDB) setelah mengalami defisit pada sembilan kuartal terakhir, mendorong sentimen positif pada pasar,” terang Panin Sekuritas dalam riset terbarunya.

(fad)

No more pages