Logo Bloomberg Technoz

Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.

“Beberapa pejabat The Fed memberi sinyal bahwa mereka tidak nyaman menurunkan suku bunga tanpa data inflasi dan pasar tenaga kerja yang reliabel. Oleh karena itu, ada risiko bahwa mayoritas pengambil kebijakan akan menolak mengotak-atik suku bunga sampai situasinya lebih jelas,” papar Thu Lan Nguyen, Head of Currency and Commodities Research di Commerzbank AG, dalam laporannya.

Analisis Teknikal

Akan tetapi, harga emas masih mencatat kenaikan 1,98% sepanjang perdagangan pekan ini. Lalu bagaimana prospek harga emas untuk minggu depan?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih nyaman di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 71.

RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI di atas 70 juga menjadi pertanda sudah jenuh beli (overbought).

Sedangkan indikator Stochastic RSI ada di 46. Menghuni area jual (short), tetapi tidak terlalu kuat. Cenderung netral.

Adapun indikator Average True Range (ATR) 14 hari ada di 166. Menunjukkan bahwa volatilitas harga emas sepertinya akan tinggi.

Untuk perdagangan minggu depan, harga emas sepertinya masih akan mengalami tekanan. Bukan tidak mungkin harga kembali terseret ke bawah US$ 4.000/troy ons.

Cermati pivot point di US$ 3.986/troy ons. Dari sini, harga emas berisiko menguji support US$ 3.944/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 10.

Target paling pesimistis atau support terjauh ada di US$ 3.840/troy ons.

Namun kalau harga emas naik, maka target resisten terdekat adalah US$ 4.088-4.092/troy ons. Penembusan di level ini berpotensi membawa harga emas ke kisaran US$ 4.146-4.153/troy ons.

(aji)

No more pages