Penyebabnya, Nilai tukar rupiah yang melemah terseret arus keluar dari obligasi pemerintah yang dipicu oleh kecemasan fiskal menekan kinerja mata uang tersebut.
Menurut data Kementerian Keuangan, dana global melangsungkan manuver jual bersih obligasi Indonesia mencapai US$83,8 juta pada 10 November, sehingga arus masuk bersih sepanjang tahun ini hanya US$25 juta.
“Investor cemas terhadap situasi fiskal,” tutur Kunal Kundu, Kepala Ekonom untuk India dan Indonesia di Société Générale, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
“Jika melihat berbagai program pemerintahan Indonesia, hal itu menunjukkan adanya peningkatan belanja fiskal, sementara pertumbuhan ekonomi masih tampak lemah.”
Investor rasanya sedang mencermati lebih jauh prospek pengelolaan keuangan negara ke depan, berikut arah kebijakan ekonomi keseluruhan Indonesia yang pada ujungnya turut membayangi daya tarik surat utang pemerintah di masa depan.
“Kesehatan fiskal sudah menjadi salah satu kecemasan investor,” mengutip catatan Jeffrey Zhang, Ahli Strategi Pasar Berkembang di Credit Agricole di CIB Hong Kong belum lama ini, dikutip dari Bloomberg News.
Dari pasar global, sejatinya ada sinyal positif, resmi berakhirnya government shutdown di AS setelah 43 hari, jadi sentimennya.
Hal ini menandai tamatnya kebuntuan 43 hari yang menghentikan sejumlah data ekonomi AS penting.
Penandatanganan Trump berarti pemerintah bisa mulai kembali beroperasi secara normal. Sejumlah personel federal diestimasikan akan kembali bekerja paling cepat mulai Kamis setempat, hingga mengebut sejumlah data penting.
DPR mengesahkan anggaran sementara hingga 30 Januari dengan suara 222 banding 209 pada Rabu. Sebagian besar anggota Demokrat menolak RUU tersebut karena tidak mencakup tuntutan utama mereka dalam pertarungan shutdown AS: perpanjangan subsidi polis asuransi Undang-Undang Kesehatan Terjangkau (Affordable Care Act) yang akan kadaluarsa tahun 2025 ini, melansir Bloomberg.
Tekanan Jual di Saham
Pelemahan rupiah berlangsung ketika tekanan jual di pasar saham meningkat. IHSG yang dibuka naik pagi tadi, pada penutupan perdagangan hari ini justru tergerus 0,2% ke level 8.371.
Sementara di pasar surat utang negara, pergerakan harga obligasi cenderung stagnan. Berdasarkan data sampai perdagangan petang ini, yield Surat Berharga Negara (SBN) sebagian besar turun tipis mengindikasikan masih ada minat beli di tengah manuver jual di pasar obligasi.
Yield SBN tenor pendek 1Y dan 2Y masing–masing turun 1,5 basis poin dan 3,1 bps. Sedang tenor 5Y dan 10Y sama–sama terpangkas sedikit 2,4 bps dan 2,1 bps.
(fad)




























