Pemerintah mengeklaim kasus tersebut dapat tertangani dengan sejumlah perhatian khusus. Misalnya udang milik PT Bahari Makmur Sejahtera (BMS) yang berlokasi di Cikande, Serang Banten masuk ke dalam daftar kuning atau yellow list dari FDA AS.
Status ini berlaku bagi eksportir udang yang berdomisili di Jawa dan Lampung. KKP menjelaskan perusahaan yang terkena yellow list wajib memenuhi tambahan persyaratan lain sebelum mengekspor udang ke AS, yakni sertifikat bebas radioaktif yang diterbitkan oleh certifying entity oleh KKP.
Tak tanggung-tanggung, saat kasus tersebut merebak sejumlah petambak udang RI sempat terguncang karena AS merupakan pasar ekspor utama bagi udang Indonesia dengan pangsa 63,1% dari total ekspor udang Indonesia. Berdasarkan data KKP, ekspor udang ke AS periode Januari-September 2025 meningkat 16,3% (YoY) dengan nilai US$881,27 juta dan volume 99,17 ribu ton.
Saat ini, Indonesia secara bertahap telah mengekspor sebanyak 200 kontainer udang ke AS di November 2025 pasca kasus kontaminasi Cs-137 pada udang beku RI. KKP baru saja melepas 7 kontainer ekspor udang secara bertahap ke AS dengan volume 106 ton senilai US$1,22 juta atau Rp20,14 miliar.
7 kontainer tersebut telah memenuhi standar yang ditetapkan FDA dan telah memenuhi prosedur dan persyaratan sesuai ketentuan yellow list serta telah memiliki sertifikat bebas Cs-137 atau Certified Entity dari KKP.
“Ini semua sudah memenuhi. Ini akan terus berproses karena proses pra scanning di unit pengelolaan ikan sudah 100 lebih kontainer dan di November ini kita targetkan bisa [ekspor] lebih dari 200 kontainer bisa kita berangkatkan yang sudah memenuhi persyaratan sertifikat bebas Cs-137,” kata Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan KKP, Ishartini dalam konferensi pers, Kamis (6/11/2025).
Merebak ke Produk Lain, Tersebar Melalui Udara
Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Publik Satgas Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Cs-137 dan Masyarakat Berisiko Terdampak, Bara Krishna Hasibuan, mengatakan, terdapat dua kontainer berisi produk alas kaki yang diekspor ke AS terindikasi kontaminasi Cs-137.
Produk alas kaki tersebut berasal dari sebuah perusahaan di Cikande, yang berlokasi di luar kawasan industri dengan radius sekitar 5 kilometer dari sumber kontaminasi utama, yakni smelter milik PT PT Peter Metal Technology (PMT).
”Kontainer pertama sudah tiba sebulan yang lalu di Indonesia dan belum diproses oleh pihak produsen sehingga belum ada pemeriksaan. Kontainer kedua sudah tiba pada 29 Oktober 2025 dengan notifikasi adanya kontaminasi Cs-137 dan sudah dilakukan pemeriksaan oleh Bapeten pada 30 Oktober 2025,” kata Bara dalam media briefing di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (12/11/2025).
Hasil pemeriksaan lebih lanjut, kata Bara, tidak menemukan kontaminasi di permukaan sehingga aman untuk disimpan di pelabuhan. Namun, produk alas kaki tetap akan diuji laboratorium oleh BRIN untuk memastikan keamanannya.
Satgas memastikan bahwa sumber kontaminasi Cs-137 berasal dari aktivitas smelting atau peleburan di pabrik PT PMT, yang menggunakan scrap metal terkontaminasi. Unsur radioaktif tersebut diduga tersebar melalui udara (airbone) dan kemudian mengenai sejumlah fasilitas di sekitarnya, termasuk pabrik pengolahan makanan laut dan alas kaki.
Kejadian paparan Cs-137 pada produk alas kaki diduga bersamaan dengan kasus temuan paparan radiasi pada udang, Mei 2025.
”Total ada 22 pabrik yang sempat terdeteksi terkontaminasi (Cs-137) karena dibawa oleh airborne. Ke-22 pabrik itu sudah selesai dilakukan dekontaminasi,” ujar Bara.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengungkapkan, produk alas kaki juga terdeteksi Cs-137 temuan tersebut pertama kali dilaporkan oleh otoritas Bea Cukai Belanda. Dalam laporan itu, disebutkan terdapat sejumlah kotak sepatu yang menunjukkan adanya paparan radioaktif akibat Cs-137.
"Jauh sebelum udang sebenarnya sudah menerima laporan dari Bea Cukai Belanda terhadap hasil temuan beberapa kotak sepatu kets yang memiliki paparan radiasi maksimal 110 nano sievert (nSv) per jam, akibat Cesium 137," kata Setia dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, Senin (10/11/2025).
Setia menyebut asal lokasi pabrik sepatu tersebut juga berasal dari wilayah Banten. Dari hasil investigasi lebih lanjut ditemukan sejumlah kotak yang diperiksa, satu di antaranya berisi sepasang sepatu dengan tingkat cemaran radioaktif yang cukup spesifik.
"Investigasi lebih lanjut terhadap sepatu kets ini menunjukkan adanya satu kotak sepatu yang memang berisi sepasang sepatu dengan sekitar aktivitas cemarannya itu sekitar 1,5 kilobecquerel (kBq) per gram Cs-137, dan spesifiknya sekitar 1,6 kBq per gram Cs-137," paparnya.
Satia menjelaskan, PT PMT pernah mengajukan impor scrap, tetapi pihaknya tidak pernah menyetujuinya. Oleh karena itu, kemungkinan paparan cemaran yang bersumber dari bahan baku yang digunakan PT PMT dari lokal. Kemungkinan kedua, dari industri yang diperkenankan untuk mengimpor scrap baja lalu kemudian menjualnya ke PMT.
”Tetapi, posisi yang kedua ini tidak boleh dilakukan karena importasi scrap itu tidak boleh diperjualbelikan. Kalau supplier-nya dari dalam negeri, kemungkinan adalah baja atau bekas-bekas peralatan medis yang punya kemungkinan untuk memberikan kontaminan pada saat peleburan,” tutur Setia.
Dari hasil pemeriksaan dan pemetaan, lanjut Setia, di kawasan industri Cikande teridentifikasi ada 15 industri peleburan logam yang memiliki paparan radiasi Cs-137 dan non-cesium-137 dengan laju dosis sebesar 0,18 sampai dengan 700 mikroSv per jam. Lalu, terdapat tiga industri pengelolaan limbah B3 yang memiliki paparan radiasi cesium-137 dan non-cesium-137 dengan laju dosis 0,24 sampai dengan 0,4 mikroSv per jam.
Selanjutnya, ada tiga industri makanan yang memiliki paparan radiasi Cs-137 dengan laju dosis sebesar 1,6 sampai dengan 152 mikroSv per jam. Dan, ada enam lokasi timbunan scrap yang diduga terpapar cesium-137 dengan dosis 11 sampai dengan 10 mikroSv per jam.
”Beberapa yang dilakukan dan termasuk juga kegiatan dekontaminasi dilakukan oleh Bapeten dan BRIN bersama 22 titik sudah sudah didekontaminasi,” kata Setia.
24 Perusahaan Terpapar Radioaktif di Cikande
Kemenperin memaparkan terdapat 24 perusahaan yang terkontaminasi radioaktif Cs-137. Akan tetapi, Setia menyebut saat ini 24 perusahaan tersebut telah dilakukan dekontaminasi. “Sudah beres semua,” tuturnya.
Daftar Perusahaan yang Terkontaminasi Cs-137 di Cikande:
- PT Bahari Makmur Sejati
- PT Nikomas Gemilang
- PT Citra Baru Steel
- PT Valero Metals Jaya
- PT Universal Eco Pacific
- PT Sinta Baja Jaya
- PT Crown Steel
- PT Sentosa Harmony Steel d/h PT Hwa Hok Steel
- PT Vita Prodana Mandiri
- PT Kanemory/Food Service
- PT Charoen Pokphand Indonesia
- PT Peter Metal Technology
- PT Growth Nusantara Industry
- PT Asa Bintang Pratama
- PT Cahaya Logam Cipta Murni
- PT Ediral Tritunggal Perkasa
- PT Ever Loyal Copper
- PT Hightech Grand Indonesia
- PT Jongka Indonesia
- PT Kabatama Raya
- PT New Asia Pacific Copper Indonesia
- PT O.M. Indonesia
- PT Zhongtian Metal Indonesia
- PT Luckione Environtment Science Indonesia
(ell)





























