Namun ekspor CPO bulan ini diperkirakan turun. Sejumlah perusahaan kargo memproyeksi ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-10 November turun 9,5-12,3%.
Stok yang melimpah dan ekspektasi penurunan ekspor membuat harga CPO sulit naik. Padahal harga minyak nabati pesaing sedang menguat.
Kemarin, harga minyak kedelai di bursa Dalian (China) bertambah 0,71%. Sedangkan di Chicago Board of Trade (Amerika Serikat/AS), harga terangkat 0,62%.
Saat harga minyak kedelai makin mahal, biasanya harga CPO juga ikut naik karena kedua komoditas ini bisa saling menggantikan dan bersaing di pasar minyak nabati global.
Perkembangan nilai tukar ringgit juga menjadi beban bagi harga CPO. Kemarin, ringgit menguat 0,38% terhadap dolar AS.
CPO adalah aset yang dibanderol dalam ringgit. Ketika ringgit terapresiasi, maka kontrak CPO jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lainnya.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana proyeksi harga CPO untuk hari ini, Selasa (11/11/2025)? Apakah bisa kembali berjaya atau kian menderita?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), CPO tersangkut di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 32. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Namun indikator Stochastic RSI sudah menyentuh 14. Di bawah 20 yang berarti tergolong jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO berpeluang naik. Cermati pivot point di MYR 4.128/ton.
Dari situ, harga CPO kemungkinan bisa mengetes resisten MYR 4.148/ton yang merupakan Moving Average (MA) 5. Resisten lanjutan adalah MA-10 di MYR 4.247/ton.
Target paling optimistis atau resisten terjauh ada di MYR 4.262/ton.
Andai harga CPO turun lagi, maka MYR 4.081/ton rasanya akan menjadi support terdekat. Support lanjutan ada di MYR 4.036-4.026/ton.
(aji)






























