Logo Bloomberg Technoz

Pada pembukaan pasar Asia yang sudah dibuka pagi ini, terpantau mata uang Asia cenderung bergerak lebih kuat dipimpin oleh baht Thailand yang melanjutkan reli dengan kenaikan 0,11%, disusul oleh yuan offshore yang berhasil menguat 0,02%.

Lanskap ini memberikan dukungan sentimen pada rupiah sehingga bisa melanjutkan tren penguatan lebih optimistis.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Selasa 11 November 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan penguatan ke area Rp16.640/US$ yang menjadi resistance terdekat sebelum break resistance selanjutnya dengan target di Rp16.600/US$ sampai dengan Rp16.580/US$.

Apabila kembali break resistance potensial tersebut, nilai rupiah terhadap dolar AS berpotensi terus menguat menuju level Rp16.500/US$ sebagai resistance paling optimis.

Jika nilai rupiah melemah dan tertekan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp16.680/US$ dan selanjutnya Rp16.700/US$. Adapun support terkuat juga sebagai support psikologis ada di level Rp16.800/US$ dalam time frame daily.

Para ahli strategi valuta asing mengatakan, penutupan pemerintahan AS telah menutupi sinyal–sinyal kelemahan struktural di pasar tenaga kerja, yang kemungkinan akan menekan nilai dolar begitu data ekonomi mulai dirilis kembali secara bertahap.

Pemimpin Mayoritas Senat, John Thune, telah menjadwalkan serangkaian pemungutan suara prosedural atas rancangan undang-undang tersebut, dan pemungutan suara untuk pengesahan diestimasikan akan dilakukan tak lama setelahnya.

RUU tersebut masih memerlukan persetujuan dari DPR dan tanda tangan Presiden Donald Trump untuk secara resmi membuka kembali pemerintahan, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Gedung Putih menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan bipartisan untuk menyelesaikan masa shutdown. Perkembangan penting ini memungkinkan pemerintah dibuka kembali dalam beberapa hari lagi.

“Pembukaan kembali tidak hanya akan meningkatkan sentimen, tetapi juga membuka jalan bagi rilis data, yang bisa memberi wawasan lebih lanjut tentang kesehatan pasar tenaga kerja AS dan, secara lebih luas, ekonomi AS menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve bulan depan,” jelas Fiona Cincotta dari City Index, melansir Bloomberg News.

Waktu rilis data baru tersebut berpotensi memengaruhi keputusan kebijakan Federal Reserve berikutnya yang dijadwalkan pada 10 Desember.

Dari sisi kebijakan moneter, pejabat Federal Reserve San Francisco, Mary Daly, mengingatkan agar Bank Sentral tidak mempertahankan suku bunga terlalu tinggi.

Stephen Miran, pejabat Federal Reserve yang mendapat dukungan Donald Trump, mengatakan data inflasi yang lebih baik dari perkiraan serta tanda-tanda berlanjutnya pelemahan di pasar tenaga kerja mendukung langkah untuk melakukan pemangkasan suku bunga ketiga secara berturut–turut pada bulan Desember.

Dalam wawancara dengan CNBC pada Senin, ia menambahkan, “setidaknya,” Bank Sentral seharusnya menurunkan suku bunga tambahan sebesar seperempat poin persentase.

“Selain itu, data pasar tenaga kerja terbaru menunjukkan tren yang sama — yakni pelemahan yang berlangsung secara bertahap,” tambahnya.

(fad/aji)

No more pages