“Tentu ini memberikan suatu gairah tersendiri buat petambak-petambak kita, artinya secara psikologis petambak udang di Indonesia ini mulai semangat lagi melakukan kegiatan budidaya berbeda dengan sebelumnya,” imbuhnya.
Fernando menambahkan meski harga udang sempat turun tajam di berbagai daerah, kondisinya kini telah berangsur pulih. Namun, KKP belum memerinci besaran harga udang saat ini di tingkat tambak, hanya menyebutkan tren kenaikan harga sudah terlihat sejak ekspor kembali dibuka.
Sementara itu, Kepala Badan Mutu KKP Ishartini menyebut penurunan harga udang sebelumnya bersifat sementara karena dipengaruhi oleh faktor pasokan dan permintaan.
“Itu [harga] turun kan karena supply demand jadi sebentar saja. Sekarang begitu kita sudah lepas ekspor itu harga sudah naik lagi. Saya kurang tahu ya kalau harga ya, tapi sempat agak turun itu karena supply demand saja, tapi sekarang sudah kembali normal,” katanya.
Ishartini menjelaskan per 31 Oktober 2025 skema sertifikasi bebas Cs-137 mulai beroperasi penuh. KKP bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Bea Cukai melakukan pelepasan ekspor udang ke AS sejumlah 7 kontainer dengan volume 106 ton senilai US$1,22 juta atau Rp 20,14 miliar. Ekspor tersebut yang telah memenuhi prosedur dan persyaratan sesuai ketentuan yellow list, dan memastikan bahwa kontainer bebas kontaminasi Cs-137 saat melewati radiation portal monitor (RPM).
Sebelumnya, Shrimp Club Indonesia (SCI) membeberkan harga udang di beberapa daerah telah terdampak imbas isu paparan radioaktif pada udang asal Indonesia. Hal itu terjadi khususnya di Sumatra Utara karena harga udang disebut sudah turun lebih dari 30%.
“Harga udang di beberapa daerah sudah turun sampai lebih 30%. Yang berat itu Medan, Sumatra Utara,” kata Ketua Umum SCI Andi Tamsil saat dihubungi belum lama ini.
Andi mengatakan udang di Sumatra Utara selama ini diserap pabrik PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods). Dari pabrik perusahaan inilah kasus kontaminasi unsur radioaktif Cs-137 ditemukan di AS pada Agustus lalu.
Buntut kejadian tersebut, sejumlah pabrik selain BMS membeli udang dengan harga harga yang lebih murah dari petambak udang.
“Dia kan bisnis, dipikir kan BMS enggak beli, perusahaan lain beli, tapi harganya sekian,” ujarnya.
Di sisi lain, Andi menyebut kejadian tersebut membuat petambak terpaksa menjual udang dengan harga murah ke pasar lokal. Akan tetapi, pasar lokal ikut terpengaruh isu radioaktif yang menyebabkan konsumen enggan membeli udang tersebut.
“Nah, masyarakat di sana juga rupanya baca berita bahwa ada radioaktif sehingga mereka enggak mau makan,” ujarnya.
Bagaimanapun, Andi menyebut jika petambak kecil sedang menanggung dampak terberat isu paparan radioaktif tersebut. Dia berharap pemerintah dapat meyakinkan konsumen bahwa udang Indonesia aman.
“Penyelesaian cepat adalah kunci menjaga kepercayaan pasar domestik maupun internasional,” tuturnya.
(ell)































