Logo Bloomberg Technoz

Dalam hal pandangan terhadap kesuksesan (value on success), kelas menengah kini bergerak “from proving to improving.” Artinya, kesuksesan tidak lagi diukur lewat kekayaan, melainkan kemampuan bertahan dan terus berkembang. 

Sebanyak 57% responden berencana memulai usaha sendiri, 32% ingin memberi dampak positif bagi sekitar, dan 38% berfokus meningkatkan pendidikan atau keterampilan diri.

Nilai memberi juga tetap melekat. Persentase kelas menengah yang rutin menyisihkan 10% pendapatan untuk zakat atau donasi meningkat dari 10% pada 2024 menjadi 15% pada 2025. Angka ini mencerminkan bahwa berbagi masih menjadi bagian penting dari nilai hidup mereka.

Dalam hal konsumsi (value on consumption), 90% responden menyebut kualitas konsisten sebagai alasan utama loyalitas terhadap suatu merek. Bagi mereka, menghargai kualitas berarti menghargai diri sendiri—bukan untuk pamer, tetapi demi menjaga semangat hidup.

Selain itu, 70% responden merasa terhubung secara emosional dengan merek yang mampu meningkatkan suasana hati mereka. Kedekatan emosional menjadi faktor utama dalam keputusan konsumsi di masa kini.

Menariknya, meski anggaran terbatas, banyak kelas menengah tetap menyisihkan dana untuk menjaga kesehatan mental. Sebanyak 61% rutin memberi “hadiah kecil” bagi diri sendiri melalui hobi, hiburan, atau waktu pribadi—sebuah bentuk terapi sederhana di tengah ketidakpastian hidup.

"Mereka ingin mencoba mendapatkan penghargaan, memberikan penghargaan terhadap dirinya dan juga membangun optimisme dan juga yang terakhir mereka punya terapi mental begitulah. Supaya setiap hari itu bisa waras," tutur Farhana.

(dec/spt)

No more pages