Performa ciamik tersebut diyakini bakal berdampak ke harga saham INCO. Terdapat 31 analis yang berpartisipasi dalam pembentukan konsensus pasar versi Bloomberg. Dari jumlah tersebut, 31 di antaranya (74,19) memberikan rekomendasi beli atau buy.
Hanya lima analis (16,13%) yang menyarankan tahan alias hold. Cuma satu analis (3,23%) dengan rekomendasi jual atau sell.
Konsensus pasar versi Bloomberg menyematkan target harga saham INCO dalam 12 bulan ke depan di Rp 5.056.96. Pada Senin (3/11/2025) pukul 13:53 WIB, harga saham INCO berada di Rp 4.640. Jadi dari posisi saat ini, ada peluang cuan 8,99%.
Sambutan Positif
Pelaku pasar pun merespons positif pencapaian INCO. Panin Sekuritas, misalnya, menyematkan rekomendasi buy terhadap saham INCO. Target harga berada di Rp 5.400.
Jadi dari posisi saat ini, Panin Sekuritas menilai harga saham INCO berpotensi melambung 16,38%.
“INCO mencatatkan perbaikan penjualan secara kuartalan menjadi US$ 279 juta pada kuartal III-2025. Naik 26,5% secara kuartalan dan 21,4% secara tahunan. Penjualan pada sembilan bulan pertama 2025 pun tetap in-line dengan estimasi dan konsensus pasar,” terang riset Panin Sekuritas.
Pertumbuhan penjualan, lanjut riset tersebut, utamanya ditopang oleh peningkatan volume penjualan nickel matte menjadi 19.557 ton. Naik 8,5% secara kuartalan dan 10,2% secara tahunan. Ada pula kontribusi awal penjualan bijih nikel saprolit dari proyek Bahodopi dan Pomalaa.
“Selain volume, kami juga menyoroti perbaikan harga jual rata-rata (ASP) yang meningkat menjadi US$1 4.248/ton. Naik 16,6% secara kuartalan dan 10% secara tahunan,” tambah riset Panin Sekuritas.
Panin Sekuritas menggarisbawahi sejumlah hal yang membuat saham INCO berpotensi bullish yaitu:
-
Proyeksi harga nikel jangka menengah yang masih bullish (Ni 1,4-1,6% per ton) yang ditandai dengan harga premiumnya. INCO dapat menjual bijih nikel tersebut dengan ekspektasi margin tinggi.
-
Percepatan proyek hilirisasi nikel bersama mitra global walaupun memang harga nikel global masih menjadi salah satu kendala Perseroan untuk short-mid term.
Sementara Sucor Sekuritas juga memberi rekomendasi buy untuk saham INCO. Target harga dipasang leboh tinggi lagi yaitu di Rp 7.500.
Artinya, saham INCO berpotensi menjanjikan cuan sampai 61,61% dari posisi saat ini.
“Diuntungkan dengan lokasi tambang yang strategis, Perseroan telah memulai menggenjot produksi mereka. Kami perkirakan produksi bijih nikel tahun ini bisa mencapai 2,4 juta ton dan pada 2026 bisa melonjak menjadi 18 juta ton,” tulis riset Sucor.
Pada 2027, menurut riset Sucor, produksi bijih nikel INCO bisa naik lagi menjadi 42 juta ton.
Tambang nikel INCO, demikian Sucor Sekuritas, hanya berjarak 6-20 km dari pelabuhan. Ini membuat Perseroan diuntungkan karena biaya logistik bisa ditekan.
“Dengan harga saat ini, marjin saprolit dan limonit masing-masing adalah US$ 35/ton dan US$ 6/ton,” tulis riset Sucor.
Sucor memperkirakan penjualan saprolit pada 2026 bisa mencapai 2 juta ton dan naik lagi menjadi 10 juta ton pada 2026. Sementara penjualan limonit diperkirakan bisa mencapai 30 juta ton.
“Hasilnya, pendapatan kami perkirakan naik menjadi US$ 2 juta. Dengan pertumbuhan rata-rata (CAGR) 28% sepanjang 2024-2027, pendapatan tersebut mencerminkan kenaikan 76% CAGR dengan pertumbuhan volume dan perbaikan marjin. Dengan siklus belanja modal yang sudah mencapai puncak, kami perkirakan Perseroan mampu menikmati kas senilai US$ 530 juta pada 2028.” jelas riset Sucor.
(red)





























