Logo Bloomberg Technoz

Adapun saham konsumen non primer yang terbang tinggi di zona hijau adalah, saham PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI) menguat 33,6%, saham PT Golden Flower Tbk (POLU) melesat 19,9%. Saham PT Purisentul Permai Tbk (KDTN) terapresiasi 16,6%.

Senada, saham konsumen transportasi juga melesat hingga menjadi pendorong IHSG, saham PT Steady Safe Tbk (SAFE) menguat 13,5%, saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) melesat 11,9%. Saham PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) mencatat kenaikan 4,22%.

Saham–saham LQ45 juga menguat dan bergerak pada teritori positif i.a, adalah saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 5,22%, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melejit 4,36%. Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) terapresiasi 3,88%.

Sama halnya, tren positif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatat kenaikan 3,71%, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 3,69%. Saham PT XLSmart Tbk (EXCL) terapresiasi 3,45%.

Pagi hari tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia pada September 2025, neraca dagang berhasil mengalami surplus mencapai US$4,34 miliar. Artinya, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 65 bulan berturut–turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Pudji Ismartini menyebutkan surplus neraca perdagangan lebih ditopang oleh komoditas nonmigas. Penyumbang surplus ialah komoditas lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral serta besi dan baja.

Neraca Perdagangan September 2025 (BPS)

Pada September 2025, impor negara Indonesia mencatat kenaikan 7,17% year–on–year/yoy, setelah pada bulan sebelumnya minus hingga 6,56%. Pertumbuhan impor pada September menjadi yang tertinggi sejak April 2025 ketika impor melesat hingga 21,13% terpengaruh kebijakan tarif Trump yang mendorong aksi frontloading para importir.

Pada saat yang sama, ekspor Tanah Air tumbuh 11,41% pada September lalu, menjadi kinerja tertinggi sejak Februari 2025. Capaian kinerja ekspor pada September juga melampaui ekspektasi pasar yang memprediksi kenaikan sebesar 7,42%. Capaian itu juga lebih tinggi dibanding Agustus ketika ekspor tumbuh 5,78%.

Kemudian, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan data inflasi sepanjang Oktober 2025, hasilnya Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28% secara bulanan (month–to–month/mtm) atau 2,86% secara tahunan.

Inflasi Oktober lebih tinggi dibanding September yang secara bulanan tercatat 0,21% dan inflasi tahunan 2,6%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Data BPS Pudji Ismartini mengatakan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas dominan selanjutnya adalah emas perhiasan.

Komoditas lain yang memberi andil inflasi adalah cabe merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

(fad/wep)

No more pages