“Kita baru saja melewati salah satu pekan terbesar tahun ini,” tulis Kyle Rodda, analis senior Capital.com di Melbourne. “Pasar memasuki pekan baru dengan posisi yang menarik: sentimen tetap bullish,” ujarnya, terutama setelah risiko terkait keputusan The Fed mereda.
Kesepakatan yang diumumkan sebelumnya oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menandai adanya pelonggaran awal ketegangan dagang, meski arah lanjutan dari kesepakatan tersebut masih belum jelas. Trump diketahui telah melonggarkan ancaman tarif 100% dan membahas pencabutan bea terkait fentanyl, namun ketahanan kesepakatan ini serta dampaknya terhadap hubungan jangka panjang masih belum dapat dipastikan.
“Pertemuan Trump–Xi menghasilkan beberapa kesepakatan dalam isu-isu sensitif, tetapi belum mencapai kesepakatan menyeluruh dan tidak ada pelonggaran atas pembatasan AS terhadap chip berteknologi tinggi,” tulis analis Barclays Bank yang dipimpin Christian Keller dalam laporannya.
Di sektor komoditas, China akan menghapus insentif pajak emas yang telah lama berlaku—langkah yang berpotensi menjadi hambatan bagi konsumen di salah satu pasar emas terbesar dunia. Sementara itu, harga minyak berpotensi bergerak setelah OPEC+ menyatakan akan menunda kenaikan produksi pada kuartal pertama tahun depan, setelah sebelumnya berencana menambah pasokan dalam jumlah kecil bulan depan. Langkah ini diambil sebagai upaya menyeimbangkan dorongan memperbesar pangsa pasar dengan tanda-tanda munculnya surplus baru.
Sepanjang Oktober, pelaku pasar dihadapkan pada berbagai ketidakpastian, mulai dari ketegangan geopolitik, ancaman penutupan pemerintahan AS, hingga valuasi saham yang tinggi. Namun, keyakinan terhadap kekuatan korporasi Amerika serta harapan bahwa pemangkasan suku bunga The Fed akan menopang pertumbuhan laba berhasil mempertahankan tren positif di pasar.
Sejak mengalami penurunan pada April, indeks S&P 500 telah melonjak hampir 40%, menandai reli bulanan terpanjang sejak 2021. Indeks Nasdaq 100 bahkan mencatat performa lebih mencolok dengan reli tujuh bulan berturut-turut—terbaik dalam delapan tahun—didukung oleh neraca keuangan kuat perusahaan teknologi dan optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).
“Ada skeptisisme yang meningkat soal partisipasi dalam reli ini, tetapi banyak yang menilai itu hanya kelanjutan dari argumen pesimistis yang sebelumnya terbukti tidak akurat,” kata Mark Hackett dari Nationwide. “Sebagian besar indikator masih mendukung pasar yang kuat hingga akhir tahun.”
Secara historis, November menandai awal dari enam bulan terbaik bagi pasar saham AS. Namun, pertanyaannya kini apakah kenaikan akhir tahun sudah tercermin dalam harga saham setelah periode penguatan terpanjang S&P 500 sejak tahun 1950-an.
Pekan ini, perhatian investor juga akan tertuju pada jadwal padat pertemuan bank sentral global. Bank sentral di Australia, Swedia, dan Brasil diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, sementara Meksiko kemungkinan justru menurunkannya. Di AS, penutupan sebagian pemerintahan federal masih membayangi prospek ekonomi karena mengganggu rilis data ekonomi utama.
(bbn)





























