Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika belum lama ini menjelaskan proyek tersebut diharapkan dapat segera memasuki tahap groundbreaking pada akhir Oktober atau awal November tahun ini.
Akan tetapi, Erani enggan mengungkapkan alasan groundbreaking proyek tersebut akhirnya mundur dari rencana awal.
“Sepertinya itu akhir Oktober atau awal November gitu lah. Sekitar itu lah kalau yang Huayou,” kata Erani kepada awak media di kantor Kementerian ESDM, akhir bulan lalu.
Lebih lanjut, Erani juga memastikan IBC telah menunjuk direktur utama baru setelah mantan pimpinannya Toto Nugroho tidak menjabat akibat terjerat kasus korupsi minyak Pertamina yang sedang diusut di Kejaksaan Agung. Namun, dia enggan mengungkapkan nama sosok pimpinan baru holding BUMN sektor baterai tersebut.
“Sepertinya sudah, [ada direktur utama baru] IBC ya,” ujarnya.
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menargetkan Proyek Titan garapan konsorsium Huayou dan IBC rampung pada akhir 2027.
Awalnya, pemimpin konsorsium proyek ini adalah LG Energy Solution Ltd. (LGES) yang awal tahun ini didepak pemerintah lantaran berlarut-larutnya rencana investasi. Huayou kemudian mengambil alih posisi pimpinan konsorsium untuk melanjutkan proyek.
Hampir serupa dengan Proyek Dragon besutan CATL-IBC yang baru diresmikan pemerintah, Proyek Titan juga dirancang sebagai ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari tambang, fasilitas pengolahan nikel HPAL, prekursor, katoda, hingga pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang.
Namun, hingga kini, posisi dan porsi Indonesia dalam proyek tersebut masih belum final. Bahlil sebelumnya menjelaskan bahwa BUMN melalui Antam memegang kendali 51% di lini hulu proyek tersebut.
Akan tetapi, di lini antara dan hilir, porsi Indonesia melalui IBC hanya di angka 30%. Pemerintah saat ini tengah berupaya menegosiasikan peningkatan kepemilikan di lini hilir BUMN di Proyek Titan melalui partisipasi Danantara.
(wdh)






























