Menurutnya, pernyataan Purbaya menjadi pengingat bagi pelaku pasar agar kembali memperhatikan nilai dan kinerja emiten, bukan hanya mengejar momentum jangka pendek.
“Pernyataan Menteri Purbaya seakan mengingatkan kembali kodrat saham dengan valuasi dan kinerja yang baik untuk dijadikan pilihan,” katanya.
Sementara itu, Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto juga menilai kondisi pasar saat ini sudah terlalu ekstrem, di mana saham-saham konglomerasi masih menjadi incaran meski valuasinya tinggi.
“Saya juga merasa masa-masa saat ini pasar sudah terlalu ekstrem, investor seperti tidak ada takut-takutnya dengan saham konglo meski valuasinya sudah tinggi. Sedangkan blue chip ditinggal karena pergerakannya tidak menarik,” jelas Pandhu.
Meski begitu, ia menilai potensi pemulihan saham-saham berfundamental masih terbuka, terutama jika kinerja emiten membaik tahun depan.
“Belum bisa dibilang bagus juga secara fundamental karena mayoritas kinerjanya pun lesu. Mungkin tahun depan baru akan membaik, istilahnya low base effect, di mana tahun ini lesu, tahun depan jadi tampak membaik,” tambahnya.
Pandhu menyebut, bagi investor jangka panjang, situasi saat ini justru bisa menjadi peluang untuk mulai mengoleksi saham-saham blue chip klasik.
“Bagi investor yang punya kesabaran tentu merupakan peluang untuk mengoleksi saham blue chip klasik. Tapi apakah rotasi akan segera terjadi, tentunya masih perlu dilihat. Sementara ini kecenderungan masih pada saham-saham konglo,” pungkas dia.






























