Penguatan rupiah mengikuti tren di regional Asia. Sejak pagi tadi, mayoritas mata uang di Benua Kuning bergerak di zona hijau, dipimpin oleh won Korea Selatan yang melesat hingga 0,81%, dan yen Jepang yang menguat 0,56%. Penguatan rupiah turut berhasil berada di urutan ketiga, dengan menguat 0,36%.
Disusul yuan offshore dengan penguatan 0,31%, yuan China berhasil terapresiasi 0,23%, ringgit Malaysia dengan 0,23%, dolar Singapura menguat 0,18%, dan peso Filipina menguat 0,08 terhadap dolar AS.
Sedang rupee India (-0,05%), dan baht Thailand (-0,03) masih tertekan di zona merah, tak sejalan dengan tren regional.
Pasar SUN Reli
Rupiah mendapatkan dorongan dari animo pemodal yang membesar di pasar obligasi negara, Surat Utang (SUN).
Siang hari ini pergerakan imbal hasil obligasi negara melanjutkan penurunan. Imbal hasil yang menurun mencerminkan kenaikan harga surat utang akibat permintaan beli yang naik.
Berdasarkan data real time OTC Bloomberg, Senin (29/9/2025) pada pukul 14:00 WIB, nyaris semua tenor SUN mencatat penurunan tingkat imbal hasil alias yield. Penurunan yield sekaligus mengindikasikan banyak investor berminat memegang surat utang terbitan pemerintah Indonesia sehingga harganya turut menguat.
Yield SUN tenor pendek terpangkas di mana imbal hasil 2 tahun turun 0,9 basis poin (bps) di level 5,033%. Lalu tenor 5 tahun turun lebih deras mencapai 6,4 bps di level 5,506%, bersama tenor 7 tahun juga turun 4,4 bps di level 5,86%.
Tenor jangka menengah pada Surat Utang 10 tahun bahkan terpangkas yield–nya mencapai 5,1 bps menyentuh 6,373%. Menyusul tenor 15 tahun turun 2,4 bps di level 6,782%.
Tenor jangka panjang, surat utang 20 tahun dan 30 tahun juga terdepresiasi masing–masing 3,6 bps dan 0,5 bps menjadi 6,845% dan 6,903%.
Reli harga SUN hari ini juga terpengaruh oleh pelemahan dolar AS, seiring fokus pasar beralih ke data ketenagakerjaan AS dan risiko government shutdown.
“Yield obligasi untuk tenor 5 tahun dan 10 tahun melemah, karena kekhawatiran risiko government shutdown di AS, seiring belum tercapainya kesepakatan anggaran di Kongres,” mengutip riset Panin Sekuritas terbaru, Senin.
Ketidakpastian fiskal ini membuat investor cenderung wait and see sambil menunggu rilis data ekonomi utama.
Kelesuan dolar AS menjadi pelecut semangat bagi rupiah. Pekan lalu, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,41% ke 98,152.
Siang hari ini, Dollar Index masih melemah 0,24% menjadi 97,920 pada pukul 14:40 WIB.
Harapan penurunan bunga The Fed membesar dan itu membuat pamor dolar AS makin mantap di jalur bearish. Saat bunga turun, berinvestasi di aset–aset berbasis dolar AS (terutama instrumen berpendapatan tetap) menjadi kurang menarik. Hasilnya, dolar AS pun melemah dan rupiah mendapat angin segar.
“Konsumen terus-menerus frustasi karena harga–harga yang bertahan di level tinggi. Sebanyak 44% responden terus menyebut harga tinggi menggerus kondisi keuangan mereka. Terlebih lagi pada bulan ini, ada tekanan tambahan dari pelemahan pasar tenaga kerja,” kata Joanne Hsu, Direktur Survei, dalam pernyataan tertulis.
Perkembangan ini membuat Federal Reserve bisa meyakini perekonomian Negeri Adikuasa sudah membutuhkan stimulus moneter. Siklus penurunan suku bunga sepertinya sudah hampir pasti terjadi tahun ini.
Mengutip CME FedWatch Tools, probabilitas penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75–4% dalam rapat Oktober adalah 89,3%. Adapun peluangdipertahankannya bunga acuan 4-4,25% adalah 10,7%.
Adapun kemungkinan bunga acuan bisa digunting lagi pada pertemuan Desember menjadi 3,5–3,75% adalah 66,4%. Artinya siklus penurunan suku bunga sepertinya hampir pasti terjadi di sisa tahun ini.
(fad/aji)































