"Bank Indonesia juga mengajak seluruh pelaku pasar untuk turut bersama-sama menjaga iklim pasar keuangan yang kondusif, sehingga stabilitas nilai tukar Rupiah dapat tercapai dengan baik," tutur dia.
Adapun, level pelemahan rupiah pada penutupan perdagangan kemarin itu juga sekaligus menjadi yang terburuk sejak kali terjadi di level tersebut pada April lalu.
Rupiah hanya lebih baik dibanding peso Filipina yang tergerus hingga 1,08%. Sedang dolar Taiwan turun 0,4%, baht Thailand 0,37%, dan kemudian ringgit Malaysia juga melemah 0,01%.
Di sisi berseberangan, won Korsel berhasil menguat 0,28%, yuan offshore 0,12% dan yen Jepang juga menguat 0,1%. Menyusul dolar Singapura yang terapresiasi 0,05%, rupee India 0,02%, dan dolar Hong Kong menguat 0,02%
Pelemahan rupiah turut dipengaruhi dan mempengaruhi pula arus jual yang makin besar di pasar obligasi Surat Utang Negara (SUN).
Yield SUN mayoritas naik terutama tenor 6 tahun yang melejit 5,4 basis poin (bps) di 5,745%, disusul tenor 4 tahun yang juga menguat 4,9 bps di 5,335%.
Sementara tenor 1 tahun naik 2,4 bps, bersama tenor 5 tahun yang naik 3,4 bps, dengan tenor 10 tahun naik 3,3 bps, seperti ditunjukkan oleh data OTC Bloomberg, petang ini.
Sentimen bearish di pasar berlangsung bersamaan dengan gelagat pemodal asing yang terus mengurangi posisi kepemilikan surat utang mereka di pasar Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, manuver jual investor asing di SBN berlangsung tambah masif sepanjang bulan ini.
Per data 18 September, posisi asing di SBN terus menurun di level Rp918,47 triliun. Turun Rp35,38 triliun selama bulan ini saja (month–to–date).
Kecemasan pasar yang meningkat, terutama dari para pemodal asing, menyoal risiko fiskal ke depan dan nasib independensi Bank Indonesia, jadi sebabnya.
"Kesehatan fiskal sudah menjadi salah satu kecemasan investor. Ketidakpastian baru akan menambah kehati–hatian di pasar," komentar Jeffrey Zhang, Ahli Strategi Pasar Berkembang di Credit Agricole di CIB Hong Kong, mengutip Bloomberg News.
Dinamika dolar terhadap rupiah juga bertepatan dengan penguatan kembali indeks dolar AS (DXY), tulis analis Maybank yang dipimpin oleh Supaat Saktiandi dalam sebuah catatan.
“Pada saat yang sama, pasar juga terus menilai dampak dari berbagai kebijakan baru yang diumumkan pemerintah setelah Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai Menteri Keuangan,” papar Saktiandi.
(ibn/yan)






























