“Kebijakan ini dirancang untuk menyuntikkan lebih banyak likuiditas ke dalam sistem keuangan, menurunkan biaya pendanaan bagi perbankan, dan pada ujungnya meringankan biaya pinjaman di seluruh perekonomian,” tulis analis Samuel, dalam catatan yang dirilis setelah putusan BI Rate.
Kombinasi kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit baik pada segmen konsumsi maupun korporasi, sehingga memberi dorongan penting bagi belanja rumah tangga dan investasi bisnis di tengah risiko ketidakpastian global yang masih membayangi.
Pelonggaran moneter ini hadir bersamaan dengan langkah Pemerintah meluncurkan paket stimulus fiskal senilai total Rp16,2 triliun yang terdiri atas 8+4+5 program. Inti dari paket ini menargetkan penciptaan 3,5 juta lapangan kerja, sekaligus memperkuat konsumsi melalui dorongan langsung ke rumah tangga serta mendorong transformasi jangka panjang.
“Investasi berpotensi meningkat berkat akses terhadap kredit yang lebih murah. Inflasi diperkirakan tetap nyaman dalam kisaran 2,0–3,0%, memberikan ruang kebijakan lebih lanjut bagi Bank Indonesia bila diperlukan,” mengutip riset yang sama tersebut.
Yang pada hasilnya, pasar keuangan merespons positif, pasar saham akan di–support oleh permintaan dari dalam negeri yang lebih kuat, sementara obligasi mendapat keuntungan dari turunnya imbal hasil.
“Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan moneter yang akomodatif dan langkah fiskal yang aktif menunjukkan Indonesia berada pada posisi yang baik untuk mempertahankan pertumbuhan di atas 5%, sekaligus melindungi diri dari ketidakpastian global melalui bauran kebijakan yang dikelola dengan hati-hati.”
Injeksi likuiditas bisa menurunkan Biaya Dana (Cost of Funds/ CoF), dengan itu, BRI Danareksa menyebut saham BBNI dan saham BBTN berpotensi paling diuntungkan.
Penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun berpotensi signifikan menurunkan CoF perbankan. Berdasarkan estimasi, jika bank tidak agresif mengejar pertumbuhan kredit, CoF dapat turun 1–13 bps, dengan emiten BBTN berpeluang paling diuntungkan mengingat ketergantungannya yang tinggi pada deposito berjangka serta porsi alokasi dana Pemerintah yang lebih besar.
“Jika bank mengganti deposito mahal (mencapai 6,5%) dengan dana Pemerintah berbunga ini, penurunan CoF bisa mencapai 8–16 bps, dengan BBNI dan BBTN menjadi penerima manfaat utama.”
BRI Danareksa juga menegaskan rekomendasi Neutral untuk saham–saham perbankan, dengan saham BBCA tetap sebagai saham pilihan dalam tren jangka panjang. Biarpun dorongan likuiditas ini mendukung sentimen jangka pendek—didukung kualitas aset yang relatif stabil, kinerja harga saham yang tertinggal sepanjang tahun, dan kepemilikan asing yang masih rendah—risiko tetap ada.
(fad)































