Padahal, tambah Perry, penawaran kredit cukup ekspansif. Ini karena perbankan memiliki likuiditas yang memadai. Terlihat dari rasio Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang sebesar 27,25% per akhir Agustus.
Minat penyaluran kredit perbankan juga terlihat dari persyaratan pemberian kredit.
"Namun tingginya suku bunga kredit masih menjadi salah satu faktor. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2025 berada pada kisaran 8-11%," ucap Perry.
Dibandingkan dengan penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin (bps) sejak September tahun lalu, demikian Perry, suku bunga deposito satu bulan hanya turun sebesar 16 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,65% pada Agustus 2025. Terutama dipengaruhi oleh pemberian special rate kepada deposan besar yang mencapai 25% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) bank.
Penurunan suku bunga kredit, imbuh Perry, bahkan berjalan lebih lambat. Dalam periode yang sama, suku bunga kredit turun tujuh bps dari 9,2% pada awal 2025 menjadi 9,13% pada Agustus 2025.
"Bank Indonesia memandang suku bunga deposito dan kredit perbankan perlu segera turun sehingga dapat meningkatkan penyaluran kredit sebagai bagian upaya bersama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sejalan dengan Program Asta Cita Pemerintah," sebut Perry.
(aji)






























