“Meskipun ada batas aman, prinsip zero exposure sebaiknya diterapkan, terutama bagi kelompok rentan. Paparan BPA idealnya ditekan serendah mungkin,” ujar Dicky.
Temuan BPOM terbaru menunjukkan adanya enam daerah dengan kadar BPA pada galon guna ulang yang melampaui batas aman, yakni Medan, Bandung, Jakarta, Manado, Banda Aceh, dan Aceh Tengah.
Hasil ini memperkuat temuan riset internasional, termasuk studi Harvard (2009) yang mencatat peningkatan kadar BPA dalam urin hingga 69% setelah penggunaan kemasan polikarbonat selama seminggu. Penelitian lain menemukan migrasi BPA dapat meningkat drastis pada suhu tinggi atau setelah pemakaian berulang.
BPOM kini mewajibkan pelabelan peringatan bahaya pada galon berbahan polikarbonat sebagai langkah mitigasi risiko. “Kebijakan ini penting agar konsumen memahami risiko dan bisa memilih produk secara sadar,” kata Profesor Chalid.
Para pakar mendesak pemerintah memperkuat regulasi dan mendorong industri beralih ke bahan alternatif bebas BPA seperti tritan. Edukasi konsumen mengenai penyimpanan dan penggunaan wadah plastik juga dinilai krusial. “Regulasi yang tegas, inovasi industri, dan literasi publik harus berjalan beriringan untuk melindungi kesehatan masyarakat,” tutup Dicky.
(fik/spt)






























