Logo Bloomberg Technoz

“Sentimen yang memengaruhi pergerakan harga nikel saat ini adalah kelebihan pasokan, Indonesia telah meningkatkan produksi nikelnya secara masif, melampaui permintaan global,” tegas dia.

Ke depan, Sutopo memprediksi permintaan nikel dari industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) akan tetap kuat. Akan tetapi, permintaan dari sektor lain seperti baja tahan karat terbilang masih tak stabil.

Faktor lainnya yang dinilai masih memengaruhi pergerakan harga nikel global yakni tingginya nilai dolar Amerika Serikat (AS). 

Hal ini dipandang membuat komoditas seperti nikel lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga turut mengurangi permintaan.

“Meski penyitaan ini penting, pasar tampaknya belum melihatnya sebagai ancaman yang cukup besar untuk mengubah tren harga nikel yang cenderung menurun,” pungkas Sutopo.

Untuk diketahui, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan menyita 321,07 hektare (ha) areal pertambangan di PT Weda Bay Nickel dan PT Tonia Mitra Sejahtera. Lahan tersebut termasuk ke dalam kategori bukaan tambang tanpa izin pinjam pakai kawasan hutan.

Perinciannya, Satgas PKH telah menguasai kembali 148,25 ha areal pertambangan PT Weda Bay Nickel di Halmahera Tengah dan Timur di Maluku Utara dan 172,82 ha di PT Tonia Mitra Sejahtera di Bombana Sulawesi Tenggara.

Sejauh ini, Satgas PKH telah mengidentifikasi 4,26 juta lahan tanpa izin pinjam pakai kawasan hutan. Atas temuan bukaan tambang tersebut, Satgas PKH telah mengidentifikasi 51 perusahaan dan telah menindaklanjuti dengan melakukan verifikasi terhadap 21 perusahaan.

Dalam perkembangannya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan telah menerjunkan tim dari kementeriannya untuk mengecek lahan tambang nikel ilegal yang disita tersebut.

“Itu juga tim lagi turun ke lapangan. Itu bagaimana laporan saya cek dulu ya. Dimonitor terus,” kata Yuliot saat dimintai konfirmasi di Kementerian ESDM, Jumat (12/9/2025). 

Nikel dilego di harga US$15.150/ton di London Metal Exchange (LME) hari ini, menguat tipis 0,03% dari penutupan hari sebelumnya.

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000 per ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages