Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) ada 10 korban meninggal dunia dalam aksi demonstrasi selama pekan lalu. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah mengatakan beberapa korban meninggal dunia karena diduga kuat mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh aparat, selama aksi demonstrasi di berbagai kota dalam sepekan terakhir.

“Ini masih kami selidiki dan penyebab-penyebab lainnya,” ujar Anis.

Berikut merupakan profil korban meninggal dunia selama aksi demonstrasi 

1. Affan Kurniawan (Jakarta)

Affan Kurniawan merupakan pengemudi ojek online yang meninggal dunia pada 28 Agustus 2025 karena diduga terlindas oleh kendaraan taktis atau rantis milik Brimob Polda Metro Jaya di kawasan Rusun Bendungan Hilir II, Jakarta Pusat. Pria kelahiran 18 Juli 2024 itu dikenal sebagai sosok yang menjadi tulang punggung atau membantu perekonomian keluarga. 

2. Andika Lutfi Falah (Jakarta)

Andika adalah seorang pelajar asal di Puri Bidara Permai, Desa Pematang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, yang ikut turun ke lapangan dalam aksi unjuk rasa yang terjadi di depan Gedung MPR/DPR RI pada Kamis, 28 Agustus 2025 lalu. Lembaga Amnesty Indonesia menyebut kematian Andika diduga akibat kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh Aparat Kepolisian. Terlebih, ditemukan luka berat pada bagian kepala belakang Andika akibat benturan benda tumpul.

3. Rheza Sendy Pratama (Yogyakarta)

Rheza merupakan mahasiswa dengan program studi S1 Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 dari Universitas Amikom Yogyakarta. Dia meninggal saat mengikuti aksi unjuk rasa di depan Polda DIY pada Minggu, 31 Agustus 2025. 

Menyitir berbagai sumber, tubuh Rheza dipenuhi oleh beberapa luka dan memar ketika meninggal dunia, salah satunya perut bagian kanan yang diduga bekas pijakan sepatu pakaian. 

4. Sumari (Solo)

Sumari merupakan seorang tukang becak berusia 60 tahun. Dia merupakan warga asal Pacitan, Jawa Timur, yang meninggal dunia saat kericuhan demo di Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat, 29 Agustus 2025 malam. Korban diduga terkena paparan gas air mata saat tertidur di atas becaknya. 

5. Saiful Akbar (Makassar)

Saiful merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) korban terjadinya insiden kebakaran di Gedung DPRD Kota Makassar, Sulawesi Selatan saat aksi demonstrasi pada Jumat 29 Agustus 2025.

Pemerintah melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengatakan Saiful memenuhi kriteria untuk diberikan Kenaikan Pangkat Anumerta setingkat lebih tinggi. Selain itu, pihak keluarga juga diberikan status pensiun janda/duda anumerta 72% dari dasar pensiun, santunan/hak keuangan yang berupa santunan kematian kerja, uang duka, serta biaya pemakaman dan atau bantuan beasiswa.

6. Muhammad Akbar Basri (Makassar)

Akbar merupakan staf humas dan protokoler Sekretariat DPRD Kota Makassar yang turut meninggal dunia karena insiden kebakaran pada Jumat 29 Agustus 2025. 

7. Sarina Wati (Makassar)

Sarina merupakan wanita berusia 26 tahun dan bekerja sebagai staf Anggota DPRD Kota Makassar. Sama seperti Saiful dan Akbar, Sarina merupakan korban yang turut meninggal dunia karena insiden kebakaran pada Jumat 29 Agustus 2025. 

8. Rusmadiansyah (Makassar)

Rusmadiansyah merupakan pengemudi ojek online berusia 26 tahun yang tewas karena diduga dikeroyok massa di Jalan Urip Sumoharjo, depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). Massa menuduh pengemudi ojol itu sebagai intel aparat. Dia sempat dibawa ke RSUP OJK Kemenkes RI di kawasan CPI, tetapi nyawanya tidak tertolong.

9. Iko Juliant Junior (Semarang)

Iko adalah mahasiswa berusia 20 tahun dari Program Studi Ilmu Hukum Angkatan 2024 di Universitas Semarang. Lembaga Amnesty Indonesia juga menyebut kematian Iko diduga akibat kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh Aparat Kepolisian. Iko meninggal pada Minggu, 31 Agustus 2025. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Iko sempat mengigau “Ampun pak, tolong pak, jangan pukuli saya lagi,”

10. Septinus Sesa (Manokwari)

Septinus Sesa diduga meninggal dalam aksi protes berujung anarkis di Manokwari, Kamis 28 Agustus 2025 malam. Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat mengatakan akan membentuk tim untuk menyelidiki penyebab kematian tersebut. 

Amnesty Indonesia menyebut aksi massa memprotes pemindahan empat orang pengurus organisasi Negara Federal Republik Papua Barat Daya (NRFPB) – berinisial AGG, NM, MS, dan PR – dari Kota Sorong ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Aksi massa pemindahan empat tahanan tersebut juga berlanjut di luar kota Sorong, seperti di Jayapura dan Manokwari.

(dov/frg)

No more pages