Pasar baru ini disebut “late bloomer” dalam penjualan mobil listrik, namun “memiliki potensi besar” dan tengah memasuki fase pertumbuhan pesat, kata VinFast.
Sebelumnya, VinFast mencoba masuk ke Amerika Utara dan Eropa, namun terhambat oleh ulasan awal yang buruk dan penarikan mobil akibat masalah perangkat lunak. Dari 97.399 unit pengiriman global pada 2024, sekitar 90% terjadi di Vietnam. Rencana pabrik di North Carolina ditunda hingga 2028.
Meski Asia Selatan memiliki lebih dari 2 miliar konsumen dengan kepemilikan mobil yang rendah, daya beli yang terbatas berarti permintaan akan didominasi mobil kecil dengan margin laba tipis.
Vuong menargetkan VinFast mencapai titik impas akhir tahun depan. Selama empat tahun terakhir, 92% pendapatan berasal dari Vietnam, sepertiga di antaranya dari pihak terafiliasi. Perusahaan taksi GSM, yang 95% sahamnya dimiliki Vuong, telah membeli ribuan mobil VinFast alias hanya memindahkan uang dari satu kantong Vuong ke kantong lainnya.
Beberapa analis menilai VinFast seharusnya memperkuat posisinya di Vietnam terlebih dahulu sebelum ekspansi ke banyak pasar sekaligus, mengingat biaya yang tinggi dan risiko yang besar.
VinFast lahir dari Vingroup, konglomerasi yang bergerak di real estat, perhotelan, hingga ritel, dengan pendapatan setara sekitar 1% PDB Vietnam. Unit pengembang propertinya yang paling menguntungkan telah menjadi sumber dana utama bagi VinFast, dengan setidaknya US$8 miliar (sekitar Rp130,4 triliun) disalurkan sebagai hibah, pinjaman, atau konversi utang menjadi ekuitas.
Meski membebani kinerja keuangan Vingroup, analis menilai hal ini tidak terlalu berpengaruh pada Vuong yang memiliki kekayaan US$11 miliar (sekitar Rp179,4 triliun). Selama bisnis propertinya tetap kuat, ia bisa mempertahankan VinFast selama yang diinginkan.
Beberapa pihak di industri otomotif kini mulai percaya pada visinya.
“Dua atau tiga tahun lalu saya bilang: ‘Tidak ada peluang dia bisa berhasil’,” kata Dan Gittleman dari SanBoca Insights. “Sekarang mereka belajar dari kesalahan, tumbuh pesat di Vietnam, dan berada di posisi yang tepat untuk ekspansi.”
(bbn)






























