Kendati menurun, angka tersebut masih melampaui estimasi rata-rata analis sebesar US$3,74 miliar.
Perusahaan yang berbasis di London ini juga tetap melanjutkan program pembelian kembali saham senilai US$3,5 miliar selama kuartal tersebut.
Unit perdagangan internal Shell, yang selama ini dikenal sebagai penopang utama laba perusahaan, mengalami tekanan.
CEO Shell Wael Sawan sebelumnya sempat menyatakan pada Maret bahwa divisi perdagangan belum pernah merugi dalam satu kuartal pun selama satu dekade terakhir.
Namun, sejumlah eksekutif energi belakangan mengeluhkan bahwa volatilitas harga yang terjadi saat ini bersifat terlalu acak dan sulit diprediksi, sehingga menyulitkan proses perdagangan yang biasanya justru diuntungkan dari ketidakstabilan harga.
Shell sendiri telah memberi peringatan awal bulan ini bahwa pendapatan dari perdagangan minyak dan gas untuk kuartal kedua akan "jauh lebih rendah" dibanding tiga bulan sebelumnya.
Utang bersih perusahaan juga naik menjadi US$43,2 miliar dari US$41,5 miliar pada kuartal pertama.
Selama dua tahun terakhir, Sawan gencar menjalankan strategi pemangkasan biaya, meningkatkan keandalan operasi, dan melepas aset-aset berkinerja rendah guna memperkecil kesenjangan valuasi dengan para pesaingnya di AS.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, dengan kinerja saham Shell sejauh ini mengungguli rekan-rekan sesama raksasa minyak atau big oil sepanjang 2025.
Analis menyoroti neraca keuangan Shell yang makin kuat. Pada Mei lalu, perusahaan menyatakan memiliki kapasitas finansial untuk terus membeli kembali saham lebih dari US$3 miliar per kuartal, bahkan jika harga minyak anjlok ke level US$50 per barel — jauh di bawah harga saat ini.
Kinerja kuartalan Shell ini dirilis hanya sebulan setelah perusahaan menegaskan tidak berniat mengajukan penawaran untuk mengakuisisi rival asal Inggris, BP Plc.
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas laporan media, sekaligus mengakhiri spekulasi yang telah berlangsung lama.
Berdasarkan aturan akuisisi di Inggris, langkah itu juga membuat Shell tak dapat mengajukan penawaran apapun kepada BP selama enam bulan ke depan.
(bbn)




























